Skip to main content

Mahasiswa STAI DDI Pangkep dan Pertemuan Tanpa Arsip






Dalam lingkungan kampus, barang tentu bukanlah tempat wisata, di mana orang datang dan pergi berdasarkan tujuan masing-masing lalu terlupakan. Namun, miniatur ini boleh jadi tumbuh dan semakin membesar di dunia kampus.

Minggu (18/11), Di sisa sore, tengah berlangsung sebuah forum yang disebut tudang sipulung oleh penggagasnya, Ardi Wiranta, yang mengundang melalui pesan pendek. Pada dasarnya, forum yang demikian bukanlah sesuatu yang baru digelar di kampus yang sudah berusia sepuluh tahun ini.

Adi (berdiri), selaku moderator (Dok, Kamar Bawah: 2012)
Sejak angkatan pertama hingga hari ini, kegiatan yang demikian sudah sering kali dirancang. Baik oleh lembaga kampus, pengelolah, maupun pribadi-pribadi (baca: mahasiswa dan alumni). Isu yang dibahas masih sama dengan kegelisahan tiga, empat, atau lima tahun yang lalu. Isu ini bisa dipetakan berdasarkan dua kubu. Pertama, mahasiswa (Lembaga kampus/alumni). Kedua, pengelolah (Civitas Akademik/Yayasan/Tokoh).

Kubu pertama berkutat pada isu rendahnya volume mahasiswa, fasilitas kampus yang tidak memadai, tingkat partisipasi dosen, dan kurangnya kontribusi pengelolah terhadap kegiatan lembaga kampus. Sedangkan kubu kedua menggelisahkan rendahnya minat mahasiswa melunasi biaya administrasi, Mushollah masih sepi meski azan sudah menggema (khususnya bagi mahasiswa yang dulu mendesak pembangunan mushollah), dan sejumlah pelanggaran aturan administrasi lainnya.

Dari pemetaan dasar di atas, kira-kira kita sudah bisa ditebak narasi yang sudah berlangsung. Narasi itu bisa dibaca sebagai bentuk aplikasi atas pengusahaan realisasi dari kegelisahan. Dari dua kubu, saya kira sudah saling menjawab meski dari sekian banyak soal yang ada belum terjawab semuanya.

Seperti yang berlangsung pada tudang sipulung yang digagas oleh mahasiswa di atas. Itulah salah satu jawaban yang kembali menguak untuk menjawab soal-soal masa lalu maupun soal-soal baru yang ada.

Tetapi, jika diingat-ingat, hal ini hanyalah pengulangan. Saya mencatat sejak tahun 2007 hingga sekarang, pertemuan formal dari kubu pertama yang membahas isu yang digelisahkan, itu hanya berjumlah 15 kali pertemuan saja. Data ini di luar pertemuan non formal berupa bincang lepas. Angka ini lebih banyak jika dibandingkan dengan frekuensi pertemuan oleh kubu kedua yang hanya berjumlah 7 kali (berdasarkan yang saya ikuti).

Suasana Tudang Sipulung
Saya kira, saya tak perlu menjelaskan ulang jalannya pembahasan pada ‘Tudang Sipulung’ yang sudah berlangsung. Karena isu yang dibicarakan tetap sama. Jika ada perbedaan, itu hanya terletak pada peserta pertemuan saja.

Dalam dugaan saya, Organisasi intra yang masih hidup di kampus ini sudah berbuat sesuai dengan kapasitas yang ada. Gerakan yang terbangun tentulah efek dari keputusan yang lahir di meja rapat pengelolah.

Jika ada yang kita lupakan, itu adalah arsip. Sungguh! Kita lupa dengan hal ini, arsip dalam bentuk apa pun. Utamanya menyangkut catatan pertemuan, daftar hadir, foto, rekaman, dan kesimpulan yang disepakati. Gerakan pengarsipan ini pun luput dilakukan atas kegiatan yang telah dilaksanakan.

Itulah makanya, di awal tulisan ini saya menyinggung antara kampus dan tempat wisata. Karena sangat naïf jika apa yang telah diperbuat di kampus itu terlupakan begitu saja. Layaknya orang-orang yang berkunjung ke tempat wisata, hanya datang dan pergi. Membayar karcis, membuat kenangan, lalu dilupakan oleh pengelolah dan sesama pengunjung. Akankah gerakan di dunia kampus STAI DDI Pangkep akan berlaku hal demikian?

***
Pangkep, 18 November 2012

Catatan:

Alumni yang hadir:
1. Ahyar Manzis
2. Andi Abdillah Tunru
3. Maskur Al-Jafaeny
4. Arman Naim
5. Selebihnya mahasiswa berjumlah sekitar 40 orang

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…