Selasa, 11 September 2012

Membaca “Tuhan” Asdar


Dok. Kamar Bawah. 2012



Jangan menagih Asdar Muis RMS bakal mengulas displin ilmu filsafat secara runut untuk menjelaskan Tuhan. Karena Anda jelas kecewa. Setidaknya, itulah yang saya alami sejak mengikuti kolom ‘Manusia-Manusia’ yang pernah hadir di harian Fajar tahun 2003.

Kali pertama menyaksikannya tampil membacakan puisi berjudul Doa di hadapan ratusan peserta pada peringatan hari buku nasional di halaman Monumen Mandala tahun 2003 silam. Saat itu, Asdar didaulat menjadi moderator yang menghadirkan Setiawan Jody sebagai narasumber.

Begitu MC memanggilnya, ia muncul dari belakang. Berjalan tegak mengenakan kaos dibalut jas dan bercelana pendek.

“Baiklah, saya akan membacakan puisi Doa terlebih dahulu,” ujarnya. Beberapa orang di sekitar saya mulai tertawa kecil. Tak ingin terganggu, saya bergeser ke depan panggung agar lebih fokus menyimak pembacaan puisi itu yang saya anggap bakal panjang dengan puja-puji kepada Tuhan. Walhasil, usai membacakan puisi, tawa peserta makin bergemuruh. Setiawan Jody pun tersenyum. Selanjutnya, keheranan saya semakin tumbuh.

Teks puisi Doa itu terdapat di lembaran buku kumpulan esainya, Sepatu Tuhan yang dibubuhi kata pengantar oleh Setiawan Jody, musisi sekaligus pengusaha itu mengungkapkan sejumlah keheranannya. Ia sama sekali tak yakin kalau tulisan yang selama ini ia ikuti lahir dari seorang lelaki tambun yang gemar mengenakan celana pendek, kaos oblong, dan menginjak sendal jepit sebagai hiasan pelengkap tubuhnya. Singkatnya, penampilan Asdar jelas menipu kita di balik ketekunannya merekam ragam topik dalam esainya. Tak hanya sampai di situ. Bagi saya, penipuan itu berlanjut pada setiap judul karyanya. Salah satunya, puisi Doa.

*^#!@&$)^?\*^#!@&$)^?\*^#!@&
Tuhan! Engkau maha tahu, kan!

Demikianlah teks puisi Doa itu.

***

Setelah kumpulan esainya, Sepatu Tuhan terbit di tahun 2003 dan novel Eksekusi Menjelang Subuh tahun 2009. Disusul kemudian kumpulan esai, Tuhan Masih Pidato yang terbit tahun 2011. Hal ini merupakan hasil kerja keras Abdul Rahman Abu, sahabat yang berhasil mengumpulkan esainya yang sebelumnya dipublikasikan di harian Pedoman Rakyat dari tahun 2003 hingga 2007. Sehingga 128 esai itu dapat kita baca dengan takzim, terkejut, tergelitik, mungkin ikut marah, dan yang pasti lebih banyak menganggukkan kepala pertanda kita sepakat dengan tawaran solusi yang disodorkan budayawan kelahiran Pangkep 13 Agustus 1963 itu.

Sejauh ini memang, kita jarang menjumpai karya Asdar terpajang di toko buku di Makassar, bukunya beredar melalui jaringan komunitas dan terkadang ia menjualnya sendiri. Buku Sepatu Tuhan, saya hanya pinjam baca dari seorang kawan yang katanya mendapatkan buku itu dengan perjuangan.

“Buku itu saya ambil sendiri di lapak penjualan panitia ketika Asdar diundang tampil membacakan puisi, karena kawan saya yang jadi pantia saat itu, saya leluasa dan merasa punya kuasa untuk sok tahu di acara. Padahal, tujuan saya hanyalah berusaha mendapatkan buku Sepatu Tuhan dengan gratis,” ungkap kawan saya itu.

Sungguh, saya tidak bisa membenarkan tindakannya, tetapi saya menunjukkan sikap yang dingin, sebab saya ingin meminjam buku curiannya itu.

Sedangkan buku Tuhan Masih Pidato, saya dapatkan dari seorang kawan di Pangkep. Buku itu ia dapatkan saat mengahdiri Tadarrus Sastra Pangkep pada ramadan tahun 2012 yang dikoordinir M Farid W Makkulau.

Pada pertemuan itu, Ahyar Manzis, kawan saya itu merasa perlu untuk mendapat hadiah. “Begitu melihatnya mengeluarkan buku dari tas, saya langsung mengambil satu dan mendekapnya hingga pertemuan usai,” katanya bangga. Saya berjumpa dengan buku itu ketika berkunjung ke rumahnya. Tanpa basa-basi, buku itu kemudian saya dekap juga dan membawanya pulang. “Saya akan buat resensinya,” ucapku.

Sesampai di rumah, saya langsung mencari esai yang dijadikan judul buku itu. Pengalaman membaca esai pendiri Komunitas Sapi Berbunyi ini mengajarkan, kalau di balik judul yang bombastis. Jangan mengharapkan kalau ia akan menggunakan pendekatan disiplin ilmu tertentu, dan itu kembali benar. Meski sebelumnya, saya masih menduga esai itu berupa penjelasan filosofis karena mencantumkan nama Tuhan. Namun, begitulah Asdar. Pemulung ide yang selalu berhasil mengajak pembaca untuk sadar akan esensi medium kehidupan yang dijalani.

Mungkin ia ingin mengingatkan kita, kalau Tuhan itu sudah jelas dan tak perlu lagi definisi tambahan untuk menjelaskannya. Sebagaimana larik dalam puisi Doa, ketika membacanya, ia hanya berkomat-kamit tak jelas kemudian menutupnya: Tuhan, engkau maha tahu, kan!

Dan, Tuhan yang masih berpidato itu, ialah ucapan polos seorang anak kecil kepada bapaknya ketika menunaikan salat Id di lapangan Karebosi, Makassar. Jelas merupakan kesaksian seorang Asdar yang kemudian mencatatnya dengan indah sekaligus menggugah kesadaran kalau ironi dalam sebuah ibadah masih berlangsung. Kita tahu kalau keabsahan salat Id adalah dua rakaat ditambah khotbah. Namun, sejumlah jemaah ketika itu mulai meninggalkan lapangan saat khotbah masih berlangsung. Kejadian itu menyebabkan seorang anak mengajukan tanya. “Papa, mengapa orang itu pergi, kan, Tuhan masih pidato?”

Selanjutnya, Asdar menghubungkannya dengan prilaku jamak orang-orang ketika mendengar Bupati, Gubernur, atau Presiden sedang berpidato. Maukah kita beranjak dari posisi saat itu juga. Ia meragukan itu. Lebih tegas lagi, ia menyebutkan kalau dewasa ini “Tuhan” yang lebih banyak disembah adalah “Tuhan” Firaun.

Esai selanjutnya sudah bisa ditebak ke mana arahnya. Bermula dari kesaksian atau yang dialami. Itulah muara ide yang ia pungut dari petualangannya dan menjalar dengan licin, sesekali singgah untuk membuat lelucon, mengajukan tanya, menggugat, dan sesekali meneror. Teknik penulisan seperti ini sangat memungkinkan pembaca untuk terlibat secara emosional yang dalam.

Nilai lebih lainnya, Asdar sadar dan tidak sadar telah memperlakukan pembaca agar tidak berkelabat ke mana-mana ketika menyelami setiap judul esainya. Karena setiap kejadian yang diulas kebanyakan peristiwa nyata. Itulah makanya, esainya selalu dibekali waktu kejadian yang tegas dengan mencantumkan tanggal saat terjadi maupun tanggal perampungannya. Sekaligus tak lupa menegaskan pandangan umum maupun pandangan pribadinya perihal solusi di paragraf terakhir sebagai acuan moral yang mestinya dijalankan.

***
Makassar, 12 September 2012
Revisi, 30 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar