Skip to main content

Pemuda dan 17 Agustus 1945


6 Agusutus 1945, Amerika menjatuhkan bom atom di Hirosima dan 9 Agustus kemudian bom kembali meluluhlantakkan kota Nagasaki. Pada 9 Agusutus ini pulalah, tiga orang pemimpin Indonesia. Soerkarno, Hatta, dan seorang dokter pribadi, Rajiman Wedyodiningrat, bertolak ke Singapura. Esoknya, 10 Agustus, Jepang meminta ketiga orang ini menuju Dallat (Vietnam Selatan). Di sana mereka diterima oleh Marsekal Terauchi. Dalam pertemuan itu, Soekarno dan Hatta diangkat sebagai ketua dan wakil untuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jepang juga menerangkan kalau kemerdakaan Hindia Belanda (nama Indonesia ketika itu) akan diberikan pada 24 Agustus 1945. (Benedict Anderson: 1988).

14 Agustus 1945, Soekarno-Hatta tiba di tanah air. Pada kesempatan itu, Soekarno membakar semangat rakyat dengan mengatakan kalau sebentar lagi negara Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbuah.

Narasi sejarah ini menyiratkan kalau Jepang tak ingin melepas dominasinya di tanah air. Dengan taktik yang lihai, Jepang meminta orang paling berpengaruh itu untuk menemui delegasinya di Vietnam. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Jepang dengan diplomasi tertutup itu. Tak lain hanya untuk menutupi kelemahan Jepang dengan hancurnya dua kota utama di negara mereka. Ya, Soekarno dan Hatta luput atas informasi perang di pasifik. Sutan Syahrirlah yang kemudian menyampaikan kabar yang tertunda itu kepada Hatta kalau pemenang perang dunia kedua adalah pihak sekutu, dan pihak sekutu jelas tak ingin berurusan dengan negara baru sokongan Jepang.

Soekarno dan Hatta bergeming dengan informasi itu, belakangan Syharir pun mengekor dengan pendirian kedua tokoh tersebut. Soekarno menegaskan dirinya dan Hatta jauh hari sudah dicurigai oleh pihak sekutu. Jadi, meskipun bertindak di luar dari kesepakatan dengan Jepang. Ia dan Hatta akan tetap dimusuhi oleh sekutu. Jadi buat apa mengambil dua resiko.

Namun, tak demikian dengan semangat pemuda, di bawah pimpinan Wikana bersama beberapa pemuda lainnya, termasuk DN Aidit. Menemui Soekarno dengan tujuan mendesak memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di luar rencana PPKI.

Kubu pemuda menilai kalau kekalahan Jepang dari sekutu merupakan sinonim tidak berlakunya lagi kesepakatan dasar dalam pembentukan PPKI. Jika itu masih dipegang, sungguhlah suatu kelemahan dan tak dapat dibenarkan. Atau sama saja mengkhianati perjuangan fisik jutaan jiwa rakyat Indonesia yang telah gugur di medan perang. Kemerdekaan Indonesia tak pantas diwujudkan atas diplomasi dengan negara yang pernah menjajah negeri ini (Jepang).

Dialog berlangsung sengit. Dalam penjabarannya, Soekarno tetap bertahan pada kesepakatan yang telah dicapainya dengan pihak Jepang. Mendengar itu, Wikana lalu berucap: “Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah”. Dijawab oleh Soekarno: “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, dan sudahilah nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu besok.

Subarjo yang hadir dalam pertemuan itu segera mengabarkan kepada Hatta. Pertentangan antara kubu pemuda dan generasi tua semakin meruncing. Hatta menegaskan kalau berita kekalahan Jepang kepada sekutu belum bisa dipercaya. Ia menolak mengamini paksaan para pemuda dan menantang Wikana dan kawan-kawannya untuk mengumumkan sendiri kemerdekaan Indonesia jika mampu. Tegasnya, Soekarno dan Hatta menolak segera memproklamasikan kemerdekaan Indoenesia atas usulan para pemuda.

Namun, semangat pemuda tak berakhir begitu saja, pertemuan dengan kelompok pemuda yang lain dilancarkan usai pertemuan itu juga. Tak jelas siapa yang mengusulkan untuk menculik Soekarno dan Hatta. Yang pasti rencana itu berjalan dengan lancar. Tepatnya dinihari 16 Agustus 1945. Sekelompok pemuda membangunkan Soekarno dan Hatta beserta istri dan anak-anak mereka untuk segera diungsikan ke luar kota Jakarta. Karena pemuda dari Heiho dan Peta tengah melancarkan pemberontakan. Isu yang digunakan oleh pemuda. Dan, sebagai pemimpin yang masih dihormati, maka Soekarno dan Hatta haruslah dilindungi. Selanjutnya, oleh Chairul Saleh, Sukarni, Wikana, dr Muwardi, Jusuf Kunto, Singgih, dan dr Sujitpo. Membawa kabur rombongan pemimpin itu ke Rengasdengklok.

Esoknya, kelompok pemuda yang telah berhasil membawa kabur Soekarno dan Hatta berkumpul di Jl Pegangsaan Timur No 56 untuk mendengarkan kumandan Proklamasi. Rasa was-was tentu saja masih menyelimuti Soekarno. Dengan tegas ia memerintahkan untuk membentuk pasukan berani mati untuk mengawal pengibaran sang merah putih.

Usai pembacaan proklamasi itu, Soekarno belumlah dinobatkan sebagai presiden. Jadi kapasitas Soekarno ketika membacakan proklamasi bukanlah selaku presiden, melainkan masih pejuang kemerdekaan yang kira-kira dituakan diantara pejuang-pejuang lainnya.

Esoknya lagi, 18 Agustus 1945. Barulah berlangsung pertemuan para pemimpin dari berbagai kelompok. Peristiwa penting itu dimeriahkan dengan kalimat pujian dan kebanggaan. Seperti: “Kemarin kita sudah menjadi negara. Sebuah negara membutuhkan seorang Presiden. Bagaimana dengan Soekrano?”. Entah siapa yang mengeluarkan kalimat itu. Tapi Soekarno pun menanggapinya dengan satu kata. “Baiklah, ucapya. Demikianlah proses yang melatarbelakangi terpilihnya Soekarno sebagai presiden pertama dan Hatta selaku wakilnya.

Proses yang sangat singkat dan tidak berbelit-belit karena memang suasananya masihlah sangat genting. Negara yang baru merdeka atas desakan para pemuda tentulah membutuhkan tokoh untuk mengawal pembentukan negara baru ini. Sebenarnya lagi, Soekarno bukanlah pilihan utama. Para pemuda mengusulkan beberapa nama, di antaranya Amir Syarifuddin, tetapi masih mendekam di penjara. Pilihan berikutnya jatuh pada Sutan Syahrir, namun dengan alasan diplomatis ia menolak. Selanjutnya orang-orang mengingat Tan Malaka, tetapi informasi mengenai tokoh yang satu ini kabur, tidak ada yang  tahu di mana ia berada.

Namun, terlepas dari drama menuju kemerdakaan yang telah dibahas di atas. Semua tokoh tanpa terkecuali yang terlibat dalam proses kemerdekaan negeri ini patutlah diingat dan dihormati. Karena semuanya mencita-citakan kemerdekaan bagi rakyat. Nah, bagaimana dengan kita dan pemimpin sekarang ini.

***

Makassar, 12 Agustus 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap