Skip to main content

Lebaran Sudah Dekat, Maka Berbelanjalah!





Percaya atau tidak, salah satu inti dari datangnya ramadan, ialah adanya geliat yang berulang dari keinginan dasar bagi sebagian besar umat muslim untuk selalu mengadakan benda-benda baru dalam dekapannya. Dan, hal itu lalu ditangkap dengan jeli oleh para penyedia barang yang dibutuhkan itu.

Tengoklah kemeriahan jalan oleh para pengendara yang berlomba hendak ke masjid dengan mereka yang bergegas ke tempat perbelanjaan. Bahkan di hari kini, beberapa rumah ibadah telah bermetamormofosis (double building), selain bisa melaksanakan ritual keagamaan juga tentu dimanjakan dengan aneka perangkat untuk berbelanja. Sesuatu yang praktis sekaligus membuat pergeseran makna. Seseorang berkunjung ke tempat ibadah dengan maksud menjalankan kewajiban ritual ataukah disemangati dengan semangat “ritual” tambahan. Berbelanja.

Hal ini memang suatu gejala yang lahir bukan tanpa sebab, laju perkembangan modernisasi telah mengawal dengan sangat setia dari tahun ke tahun sehingga datangnya ramadan selalu dinanti sebagai bulan yang serba meledak. Penuh cerita dan melupakan segala kegetiran hidup dari beberapa bulan sebelumnya. Perhelatan ini layaknya sebuah pesta sangsi jika hanya dilewatkan dengan menahan lapar dan haus. Kompensasi dari itu harus diterjemahkan dengan pemenuhan hasrat dasar untuk selalu memiliki hal-hal yang baru. Aneka jenis pakaian, makanan, furnitur, dan lain sebagainya.

Maka, lahirlah paket berbelanja yang terus diperbaharui untuk memenuhi hasrat dasar manusia. Sejumlah pusat perbelanjaan jauh hari telah mengubah gerai dengan konsep yang kira-kira kena dengan tema besar ramadan, dari sini, terjadilah tarik menarik yang sebenarnya sangat abstrak dari filosofi kalau di hari yang fitri sesorang telah lahir kembali. Di mana fatalnya, semangat ini berakhir pada dogma kalau terlahir kembali itu merupakan munculnya manusia-manusia yang  mengenakan sesuatu yang baru di badannya secara lahiriah.

Sejak kapankah ini terjadi, sulit diterka, karena zaman terus bergerak dan membentuk perangkat teknis di setiap edisi ramadan. Namun pada dasarnya, semangat bulan ramadan dalam literatur agama, ialah sebentuk penegasi pemenuhan hasrat dasar manusia selama sebulan. Tidak bolehnya makan dan minum dan hal lainnya yang telah ditetapkan dari terbitnya matahari hingga tenggelam, tentulah sebuah simbol atas pembatasan hasrat tersebut.

Konsumen, Produsen, dan Toko

Pengusaha membuka toko pakaian bukan lagi untuk menyediakan sumber pakaian bagi manusia, tetapi sudah pada pemaksaan untuk selalu dan terus-terusan berbelanja. Entah dari mana teori diskon itu, padahal yang yang mendapat potongan harga adalah jenis barang yang serupa dari tahun ke tahun. Jika ada yang membedakan, itu terletak pada modelnya saja. Sehingga fungsi pakaian pun bergeser dari melindungi badan menjadi melindungi realitas hidup.

Menurut data yang dilansir oleh Lembaga riset, AC Nielsen pada tahun 2010 lalu mencatat jumlah toko di Indonesia mencapai 2,524 juta gerai. 57% terkonsentrasi di pulau Jawa, sedangkan 22% ada di Sumatra, dan 21% terbagi di pulau lainnya. Jumlah ini menempatkan Indonesia di urutan kedua setelah India sebagai wilayah dengan jumlah toko terbanyak di dunia.

Hal ini semakin menegaskan kalau negeri ini memang pangsa pasar yang sangat potensial bagi para investor. Masyarakat sebagai rantai akhir dari perputaran ekonomi ini hanya berakhir sebagai konsumen yang akan terus berbelanja sebagai penyeimbang dari laju kapital dan tentunya sebagai sasaran utama hasil dari produksi. Asumsi inilah yang semakin melemahkan hak-hak konsumen dan semakin rentan terjadinya pelanggaran. Selain itu, di Indonesia sendiri belum ada pengakuan secara konstitusional bahwa konsumen juga merupakan salah satu pelaku ekonomi di Indoensia. Hal ini dapat di lihat dalam GBHN kalau yang disebut sebagai pelaku ekonomi masih terbatas pada BUMN, Swasta, dan Koperasi. (Zohra Andi Baso: 2000).

Tetapi, sebagaimana diketahui bersama, paket akhir ramadan hanya datang sekali dalam setahun. Paham ini menjadi legitimasi kabur antara konsumen yang semakin tak mau sadar akan hak-haknya dan produsen sebagai penyedia barang yang juga semakin lalai dalam pemenuhan hak tersebut. Hasil akhirnya, konsumen tak perlu lagi menagih salah satu haknya. Yakni, pemenuhan informasi tentang produk, masa berlaku, komposisi bahan dasar, informasi label, dan petunjuk pemakain. Selain tentunya sikap apatis penyalur barang yang sebatas menjual mimpi dengan mempermainkan harga ke dalam bentuk paket diskon.

Jika kita menghayati, maka akan ditemukan tiga perayaan hari besar yang memiliki frekuensi berbelanja yang sangat besar. Pertama, menjelang perayaan hari raya Idul Fitri. Kedua, menjelang perayaan hari raya Idul Adha, dan ketiga saat menjelang Natal bagi kaum Kristiani. Dari tahun ke tahun, realitas inilah yang terjadi. Pusat perbelanjaan menangkap momen ini dengan perlakuan khsusus, yakni mempermak gerai dengan benda-benda yang kiranya memiliki relevansi dengan semangat dari ketiga hari perayaan keagamaan ini.

Ya, lebaran sudah dekat, karena itu bergegaslah berbelanja. Semangat inilah yang mungkin menghinggapi dari ketiga momen di atas. Produsen yang melihat kalau momen ramadan merupakan ladang yang terbentang luas untuk meraup keuntungan, begitupun dengan pengusaha toko yang menjadi penyambung tangan dari rantai ekonomi yang ramai ini. Maka tinggallah pada konsumen untuk mempersiapkan alat tukar belanjanya yang di Indonesia masih didominasi oleh klas menengah ke bawah yang terus didepak untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
***
Pangkep, 3 Agustus 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…