Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2012

Menanti Pemimpin Garis Pinggir

Tegasnya, garis pinggir itu keberpihakan bagi mereka yang selama ini dimiskinkan oleh sistem. Itulahpemimpin dari garis pinggir, dan kita menanti itu.

Hari yang dinanti sudah semakin dekat. Selasa 22 Januari masyarakat Sulsel kembali merayakan perhelatan akbar guna menyalurkan suara kepada pasangan kandidat yangdiharapkan membawa perubahan yang berpihak pada semua golongan.
Ya, sejak dimulai pertama kali Pilgub Sulsel tahun 2007 lalu, harapan akan terbukanya keran kebebasan yang merata bagi masyarakat sipil untuk menentukan pilihannya dirasa sangat membantu. Betapa tidak, masyarakat sudah bisa melacak akar sejarah sang sosok pemimpin yang akan maju dalam pemilihan.

Lebaran Kali Ini, Bulan Masih di Atas Kuburan (Wawancara Imajinatif dengan Sitor Situmorang)

‘Bulan di Atas Kuburan’ itulah isi puisi Sitor Situmorang yang berjudul ‘Malam Lebaran’ yang selalu saja aktual di benak kita kala menghampiri sebuah malam di akhir ramadan. Sajak lawas gubahan mantan ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) ini kira-kira ingin mengabarkan realitas lain yang tak terjamah atau bahkan kita lupa di malam lebaran. Sebuah malam yang sejatinya tak ada bulan yang nampak. Tapi, Sitor Situmorang memberikan teror. Menantang logika kita untuk melihat bulan di atas kuburan. Bulan apakah yang dimaksud, dan mengapa mesti berada di atas simbol terakhir jejak manusia di bumi. Kuburan.

Pemuda dan 17 Agustus 1945

6 Agusutus 1945, Amerika menjatuhkan bomatom di Hirosima dan 9 Agustus kemudian bom kembali meluluhlantakkan kota Nagasaki. Pada 9 Agusutus ini pulalah, tiga orang pemimpin Indonesia. Soerkarno, Hatta, dan seorang dokter pribadi, Rajiman Wedyodiningrat, bertolak ke Singapura. Esoknya, 10 Agustus, Jepang meminta ketiga orang ini menuju Dallat (Vietnam Selatan). Di sana mereka diterima oleh Marsekal Terauchi.Dalam pertemuan itu, Soekarno dan Hatta diangkat sebagai ketua dan wakil untuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jepang juga menerangkan kalau kemerdakaan Hindia Belanda (nama Indonesia ketika itu) akan diberikan pada 24 Agustus 1945. (Benedict Anderson: 1988).

Lebaran Sudah Dekat, Maka Berbelanjalah!

Percaya atau tidak, salah satu inti dari datangnya ramadan, ialah adanya geliat yang berulang dari keinginan dasar bagi sebagian besar umat muslim untuk selalu mengadakan benda-benda baru dalam dekapannya. Dan, hal itu lalu ditangkap dengan jeli oleh para penyedia barang yang dibutuhkan itu.
Tengoklah kemeriahan jalan oleh para pengendara yang berlomba hendak ke masjid dengan mereka yang bergegas ke tempat perbelanjaan. Bahkan di hari kini, beberapa rumah ibadah telah bermetamormofosis (doublebuilding), selain bisa melaksanakan ritual keagamaan juga tentu dimanjakan dengan aneka perangkat untuk berbelanja. Sesuatu yang praktis sekaligus membuat pergeseran makna. Seseorang berkunjung ke tempat ibadah dengan maksud menjalankan kewajiban ritual ataukah disemangati dengan semangat “ritual” tambahan. Berbelanja.
Hal ini memang suatu gejala yang lahir bukan tanpa sebab, laju perkembangan modernisasi telah mengawal dengan sangat setia dari tahun ke tahun sehingga datangnya ramadan selalu dinan…