Skip to main content

Dunia yang Dipijak Rupanya Retak


 
Dok. Cara Baca

Satu lagi buku kumpulan tulisan dari penulis muda Makassar. Ada lima penulis yang menyumbangkan 4 hingga 5 judul catatan. Walhasil, semuanya sedang marah. Sangat provokatif, tulis Dul Abdul Rahman yang membubuhkan catatan epilog pada buku yang bertajuk Jejak Dunia yang Retak ini.

Dunia yang retak itu adalah dunia keseharian yang kita cermati, disaksikan, atau bahkan sedang dijalani. Di sanalah kita diteror, dicacimaki, sekaligus diingatkan. Sungguh mengganggu ketenangan kita yang sejauh ini sedang baik-baik saja hidup di dunia ini. Ketenangan bagi mereka yang tak merenungi kehidupan, Sindir Socrates yang menjadi kutipan perdana dalam buku ini.

Bagi mereka yang selalu melewati lalu lintas dunia komunitas dengan seabrek jadwal diskusi dan kajian. Kemungkinan akan menganggap muatan kumpulan catatan ini adalah pengulangan-pengulangan yang selalu menjadi topik diskusi, dan itu saya kira benar. Sebenar mengatakan kalau kapitalisme adalah agenda rutin yang selalu ingin dilawan. Realitasnya memang, lima penulis muda dalam buku ini lahir dari komunitas diskusi di Makassar. Penerbitan buku dengan metode gotong royong seperti ini merupakan salah satu usaha dalam merekam teriakan, interupsi, protes, ketidaksepakatan, atau khotbah yang tak pernah kita dengar di rumah ibadah. Pada akhirnya, menulis dan menerbitkannya merupakan manifestasi untuk tetap melawan, saya kira itu heroik. Meski kelima penulis muda ini boleh jadi menolak pelabelan demikian. Namun, penerbitan buku ini patutlah diapresiasi.

***
Anak muda yang sedang marah pada situasi realitas yang hanya dirancang segelintir orang untuk kepentingan korporat yang kadang tak disadari bagi sebagian besar umat manusia. Betapa tidak, kita diarahkan untuk membuat jadwal untuk dijadikan rutinitas. Termasuk urusan keagamaan, pendidikan, dan selera makan. Pada tema besar inilah saya kira kumpulan catatan dalam buki ini disandarkan, yang kemudian dipecah ke dalam kesaksian di setiap judul catatan.

Kelima penulis menawarkan cara pandang yang tak lazim, yang mungkin pula merujuk pada realitas penulis itu sendiri, menjadi mahasiswa yang tak biasa di kampusnya. Hal ini bisa ditebak dari bio data masing-masing. Semuanya kenyang dengan gulat organisasi internal dan eksternal kampus. Dan, yang pasti tentunya, mereka pembaca akut serta perancang ruang diskusi.

Penerbitan buku ini pun tak lepas dari usaha sadar mereka untuk mengorbankan sesuatu yang tak lazim. Ya, mungkin mereka telah menyingkirkan kebutuhan lain demi terbitnya buku ini. Sebentuk pilihan yang tak lazim bagi manusia seusia mereka yang semuanya lahir di dekade 80-an.

Mensonge atau Kelogisan

Salah satu yang menarik dari keseluruhan komposisi buku ini terletak pada catatan epilog Dul Abdul Rahman. Pengarang novel Sabda Laut ini meminjam muatan novel ‘Mensonge’ gubahan Malcolm Bradbury, yang menceritakan seorang akademisi yang sering mengutip pernyataan orang-orang besar berdasarkan seleranya untuk mendukung pendapatnya sendiri. Mungkin, Dul Abdul Rahman sedang memberikan sindiran kepada kelima penulis yang memang menumpuk pendapat filsuf, pemikir, psikolog, dan sejumlah tokoh ilmu pengetahuan lainnya di setiap judul catatan. Sebab inilah sehingga Dul menyatakan kalau buku ini sangat provokatif. Ataukah Dul sedang mengingatkan akan bahaya sifat mensonge (Prancis: Pembohong).

Secara satiris, Dul menulis: “Wah! Susah rasanya saya melanjutkan tulisan ini karena bisa saja saya ikut-ikutan jadi kritikus yang mensonge-mensongean.” (Hal. 145). Namun, itu sudah terlanjur. Dul pun menempelkan kutipan-kutipan untuk mensandarkan catatan epilognya. Tapi saya kira bukan itu yang mesti diperpanjang. Karena dasar seseorang untuk mengutip pernyataan, bukan sebatas gagah-gagahan semata. Saya kira kelima penulis tidak berada pada posisi tersebut. Dasar untuk mengutip, itu lebih tepat dikatakan karena kelogisan kalimat yang hendak dijadikan referensi tambahan atas tema yang disampaikan.

Lain lagi dengan Eko Prasetyo, Penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah pada prolognya,  ia  mengatakan:Jika hendak disebut, buku ini adalah kumpulan tulisan anak-anak muda yang menolak untuk percaya pada slogan dan janji kosong” (Hal. xiv).

Pesan Kelima Penulis

Bahrul Amsal merupakan penulis pertama yang menegaskan sebuah pesan ikhwal kehidupan yang hendak dijalani itu. Ia membawa ingatan kita jauh di Yunani kuno. Ketika seseorang menolak lari dari negerinya sendiri dan kemudian memilih mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun. Mungkin itu sebuah kekonyolan, tatapi itulah realitasnya. Socrates tak ingin kebenaran yang diyakininya tergadai di pengadilan.

Pesan inilah yang coba diingatkan kembali. Meski kita tak hidup dan se zaman dengan Socrates, tetapi kita hidup di sebuah ruang (dunia) yang pernah dijejaki satu-satunya filsuf yang tak menuliskan pikirannya itu. “....namun sekarang, ada negara, ada pemerintahan, ada kebijakan, ada masyarakat yang hidup dengan kecukupan yang beragam....” (Hal. 3). Bahrul Amsal mungkin pula ingin mengatakan kalau kita juga ada dalam keadaan dunia ini, namun kita diam dan sepertinya asik-asik saja dengan keadaaan ini.

Beralih ke tema berikutnya. Asran Salam mengajukan tanya pada hal yang paling sering dilakukan dalam keseharian hidup ini. Doa, yang merupakan rehat untuk sebuah pengaduan, permintaan, atau puja puji yang dilafaskan. Namun, ada alpa atas realitas yang sedang berjalan. Sepertinya doa merupakan sesuatu yang terpisah dari kenyataan hidup. Doa berhenti pada kelemahan yang nisbih, kesalehan yang tercerabut, dan ketundukan yang basih.

Asran Salam selaku koki pada tema ini menggugat doa para ulama yang berjidat hitam yang tak sejengkal pun melewatkan sisa malam untuk memuja asmah-Nya. Namun buta pada pemerasan, eksploitasi, perbudakan, dan pembodohan yang setiap hari hadir meneror kemanusiaan kita. Rupanya doa sangat privat bagi yang melakukannya. “....Kesalehan tidak lagi menjadi cahaya penerang pada lorong-lorong kepedihan, penderitaan manusia (umat)....” (Hal. 5).

Jelajah selanjutnya merambah ke dunia politik yang memuakkan itu. Syamsu Alam pada salah satu catatannya mencoba menelanjangi praktik politik para politikus yang sudah jauh bergeser dari makna politik itu sendiri. Kita seolah berhenti untuk menelaah politik. Karena itu suatu medan yang kejam, tak ada kawan di sana, yang ada malah lawan abadi. Kira-kira demikianlah pengertian politik yang hinggap bersarang di benak masyarakat. Sehingga kesadaran yang terbangun. Jauhilah politik, karena politik itu kejam. Masyarakat cukup berhenti sebagai penikmat saja yang hanya dibutuhkan setiap menjelang pemilihan. Jadi politik sinonim dengan pemilu. Itu saja.
Syamsu Alam mengingatkan kalau politik itu merupakan seni meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan tujuan kebaikan. Bila itu dijalankan dalam praktik kenegaraan, maka politik adalah strategi menjadikan negara sebagai legitimasi dalam memperkuat martabat bangsa dan mensejahterahkan rakyat. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang diperlihatakn pelaku politik dewasa ini. Keputusan politik seperti inilah yang dirindukan.

***

Hal yang yang tak pernah absen untuk selalu diperbincangkan adalah pendidikan. Institusi sosial yang seusia umat manusian ini. Evolusi pendidikan hingga kini nampaknya belum menjadi solusi atas hakikat kemanusiaan. Takim Mustakim, penulis tema ini rupanya sepakat dengan Roem Topatimasang, penulis buku Sekolah Itu Candu. Institusi sekolah yang mulanya diharapkan sebagai lembaga yang mampu memberikan solusi atas masalah umat manusia malah menjadi masalah besar yang menghantui setiap keluarga di negeri ini. Khususnya bagi keluarga yang tidak mampu. Meski sekarang ini pemerintah telah menggratiskan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Tetapi tetap saja sekolah belum bisa menjadi menyelesaikan dirinya sendiri.

Mustakim menggelisahkan muatan pendidikan yang malah menjerumuskan manusia dari hakikat kemanusiannya sendiri. Hal itu disebabkan arah pendidikan yang sangat pro pada kepentingan pasar. Lulusan pendidikan tak ubahnya sebagai robot yang siap dipekerjakan di gedung-gedung perusahaan untuk akumulasi modal kaum kapitalis. Tegasnya, out put pendidikan hanya pemberi labelisasi bagi umat manusia yang siap menjadi pekerja untuk menghabiskan sisa hidupnya.

Namun pendidikan tetaplah penting sebagai dasar perjalanan umat manusia untuk tetap tangguh. Hanya saja sistemnya perlu diubah. Mustakim menawarkan pendekatan local wisdom. Dengan mengapresiasi warisan lokal ke dalam dunia pendidikan diharapkan akan menjadi arena yang memanusiakan bagi manusia. “Kearifan lokal ini jika ditanamkan akan membentuk karakter peserta didik yang tangguh dan kokoh, walaupun dihempas badai moralitas bangsa kita terhanyut oleh keserakahan akan kekuasaan dan keuangan....” (Hal. 45).

Terakhir, penulis muda yang mencobah mengguncang kevakuman kesadaran kita. Datang dari seorang perempuan. Muchniart Az, dalam salah satu catatannya secara khusus mempertanyakan gerakan gender yang merebak. Ia melihat kalau itu malah bias yang mengakibatkan masyarakat menjadi gamang membicarakan hakikat perempuan itu sendiri. Hal ini pula diperparah dengan niat baik media yang gagal sebagai penyampai pesan karena lebih dominannya kekuatan modal di baliknya yang memanfaatkan perempuan sebagai objek kapital produk kecantikan.

Kita tahu kalau pemakaian jilbab pada mulanya adalah suatu penanda tingkat kesadaran perempuan memaknai tuntunan agama. Namun, perlahan hal itu bergeser sebagai simbol status sosial dan kemodisan akibat adanya gerakan akumulasi modal di sana. Lihat saja beragamnya sejumlah produsen jilbab yang mengutak-atik pilihan sadar anjuran keagamaan. Pada wilayah inilah perempuan terjerat jaring modal yang tak mereka sadari. Perempuan berjilbab bergeser dari simbol menjaga martabat perempuan itu sendiri menjadi basis ekonomi kaum kapital.

Kira-kira seperti inilah sepotong pesan yang hendak disampaikan kelima penulis muda ini. Saya kira suatu langkah yang positif bagi kita untuk kembali bertanya dan merenung perihal tata laku serta gerak-gerik dunia yang sedang kita huni ini. Sebenarnya kita diajak untuk melihat dunia ini kalau ada yang tidak beres dalam pembangunan sebuah hubungan antar manusia di dalamnya. Singkatnya, sebuah dunia yang dianggap biasa-biasa saja itu rupanya dunia bayangan dan tentu saja retak. Namun, selalu saja dijadikan cermin.

***
Makassar, 24 April 2014  


















Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap