Skip to main content

15 Juli 2011 (Riwayat Hari yang Tumbuh)


 
Kalau kau datang hatiku senang
Berbunga-bunga
Bulan dan bintang terangi malam sehabis hujan
Saling bicara tukar cerita berbagi rasa
Aku di sini tetap di tepi masih bernyanyi
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkan
Aku tak bisa untuk tak peduli
Hati tersiksa
Aku bersumpah untuk berbuat yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan
(Iwan Fals. 15 Juli 1996)
***

Buat Teman-teman Lentera Management

15 Juli tahun 2011 lalu, kami masih mendapati kedua mata ini melihat dengan sangat jelas kota kecil kami tumbuh merangkak. Kota yang kira-kira merekam hampir seluruh jejak waktu kami. Meski tak ada pengakuan yang jelas. Di sela perbincangan sederhana yang sering kami lakoni. Terkadang kami berbicara jauh lebih hebat daripada deklator negara ini sembari menertawakan sepetak laku para pejabat di kota kecil kami. Tentu saja kami tertawa seusai salah seorang di antara kami mengeluarkan kalimat yang demikian. Sekaligus itu pura-pura dan bersembunyi di balik kepulan asap rokok yang semakin membuat gigi-gigi kami kuning juga bibir perlahan hitam.

15 Juli tahun 2011. Kami kira itu kepura-puraan yang serius. Seserius ketika hari-hari sebelum tanggal itu mempertemukan kita di sebuah ruang yang beberapa di antara kami adalah rumah singgah milik sebuah lembaga yang serius dalam kepura-puraan.

Kami duduk menyapa mencoba menyatukan suatu harapan. Suasana begitu serius dengan sebatang rokok masing-masing sudah menyala diapitan jari telunjuk dan jari tengah kami. Berlomba mensesaki ruangan dengan kepulan asap dari ragam merk rokok yang ada ketika itu. Tapi saya kira, bukan itu yang lebih membuat kita serius. Adalah dua bungkus martabak dan sejumlah minuman kemasan yang lebih kuat menahan kami untuk duduk bersilah melawan dinginnya lantai tegel. Hahhahah.

Untuk menutup kepura-puraan yang serius itu, beberapa di antara kami mencoba berbicara serius dengan membuka peristiwa masa lalu di mana kita selalu terbaring kaku untuk merayakan kekalahan. Ya, selalu saja kekalahan, karena tak sedetikpun kita pernah memenangkan suatu pertarungan. Dan, saya kira itulah alasan mengapa 15 Juli 2011 kita membuka beberapa luka yang selalu saja membuat kita tertawa.

Perlahan kemudian, sebungkus, dua bungkus, hingga berbungkus-bungkus rokok dan puluhan minuman kemasan plastik menepi ke pinggir untuk bersaksi. Karena sebentar lagi ia tak lagi diperlukan. Martabak pun sudah pamit lebih dulu. Tenggelam di perut dan terlelap di sana. Namun, dingin malam 15 Juli 2011 makin kuat. Kami pun diam, berfikir sangat keras. Lebih keras dari semangat menghamburkan pesan pendek gratis dari salah satu diantara kami yang mengabarkan akan pentingnya malam 15 Juli 2011 itu. Suasana hening. Hanya ada seorang menghisap rokok sebagai bukti kalau malam itu wajib mengadakan berbungkus-bungkus rokok dan sekarton minuman kemasan lagi. Lagi dan lagi.

Tapi kita sepakat kalau malam itu harus lahir keputusan untuk menyelamatkan sesuatu yang sedang tumbuh. Sejumlah masa lalu telah menelan kita dalam-dalam. Dan esok, adalah sisa waktu untuk membiarkan telinga, mata, hidung, tangan, kaki, dan kepala kita tumbuh secara layak. Sebagaimana janji sebuah teks dalam kitab suci: Perubahan itu akan datang jika kaum itu sendiri yang mengusahakannya. Sebenarnya, tak sepenuhnya kami fasih mengeja teks-teks itu. Karena bisanya kami bertingkah dengan sangat konyol. Mengulang-mengulang teks-teks kitab suci hanya untuk mengusir ketakutan kami pada lengangnya malam.

Tapi kami kira pesan pendek yang mengguncang saku celana dan seketika merubah seluruh jadwal yang sudah disusun untuk menggantinya dengan datang membawa wajah pucat bulan kami pada malam 15 Juli 2011 itu. Juga merupakan usaha-usaha untuk mengganti defenisi takdir yang sudah terlanjur kami terima begitu saja dari bangku sekolah atau Kutbah Jum’at yang selintas kami dengar ketika lewat di depan masjid.

15 Juli 2011 adalah pilihan. Begitu juga dengan hari-hari setelahnya. Kebenaran itu tafsiran kesadaran kita, makanya selalu saja ada perbedaan. Lalu apakah kita selalu mau bertahan pada kelucuan sebagaimana yang selalu saja dijumpai pada spanduk-spanduk perayaan hari besar keagamaan di Masjid-masjid. Dengan semangat peringatan hari ini, kita tingkatkan ini dan itu. Atau yang sejenisnya. Dalam menyambut bulan itu dan ini, kita saling memaafkan serta meningkatkan ini dan itu pulah. Sungguh pengulangan yang menyedihkan. Kemiskinan kosa kata jauh lebih berbahaya dibanding kemiskinan akan harta benda. Sayangnya, keduanya selalu lalai dirawat oleh negara, dan oleh kita sendiri.

15 Juli 2012 kini. Hari-hari sebelumnya, saya kira kita sudah berjalan melewati tanggul yang kita rancang sendiri. Melompatinya sendiri-sendiri ataukah terkadang kita membuat varian lompatan secara bersamaan.

Jika itu indah, mari mengulanginya lagi dan tak perlu mengulang kata maaf layaknya janji para calon Bupati, Gubernur, atau Presiden sekalipun. Karena itu jelas menjengkelkan.

Berbuat, belajar, dan tidak berpura-pura, saya kira itu cukup.
***
Pangkep, 15 Juli 2012



         

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap