Skip to main content

Intelektual Miring dalam Lintasan Sejarah Perkembangan Demokrasi di Indonesia




Ketika Soekarno diberi pilihan antara agama, nasionalis, dan, komunis. Ia tidak memilih salah satunya, tetapi memilih ketiganya, dan lahirlah Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunis)

Apakah motif penggabungan ketiga ideologi tersebut. Saya menggunakan tiga pendekatan. Pertama, latar pemikiran Soekarno ada pada ketiga ideologi tersebut. Ia belajar dari seorang cerdik cendekia, Hos Cokrominoto, Soekarno sendiri seangkaatan dengan Musso dan Kartosuwiryo yang juga berguru kepada Cokrominoto.

Sebagaimana diketahui, Musso ikut andil dalam pembentukan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Kartosuwiryo kemudian membentuk Darud Islam Indonesia (DII), yang mana antara Musso dan Kartosuwiryo meletakan pemahamnnya di garis fundamentalis. Musso beraliran Marxis ortodoks yang hanya menggunakan determinisme historis dalam gerakan PKI. Kartosuwiryo juga terjebak pada pahaman keislaman garis keras dengan mengkampanyekan negara islam buat indonesia.

Soekarno dalam hal ini mengenyam pendidikan liberal ala Eropa, tidak mau terjebak ke dalam fundamentalisme ideologi Marxian ataupun Islam. Karena dalam doktrin gurunya, Hos Cokrominoto, ia mengenal kalau Islam itu egalitarian bahkan mirip-mirip sosialis. Hos Cokrominoto sendiri menulis buku Sosialisme dalam Islam. Hal ini tentu untuk mengegaskan kembali pemahamannya terhadap Islam yang dimaknainnya sebagai agama yang memandang semua harkat manusia dalam posisi yang sama di muka bumi.

Apa yang dilakukan oleh Soekarno dalam perkembangan demokrasi pemikiran di awal terbentuknya negara kesatuan ini. Tentunya merupakan sebentuk kreatifitas berfikir di dalam merangkul semua ide para kaum cendekia guna membangun republik. Namun, hal itu tentu saja bukan suatu tindakan yang langsung tersepakati oleh semua kalangan. Ide Soekarno tersebut mendapat kecaman dari kaum fundamentalis Islam sekelas Kartosuwiryo yang dalam gerilianya memproklamirkan negara Islam Indonesia.

Kedua. Motif penggabungan ketiga ide tersebut merupakan gagasan seorang Soekarno muda yang subyektif. Dalam catatan Frans Magnis Suseno, pada tahun 1926 Soekarno menulis tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Artinya, penggabungan ketiga paham tersebut di saat ia menjadi seorang presiden adalah merupakan proyek intelektual seorang Soekarno yang di masa mudanya mengenyam paham Islam dan Marxisme, dan pahaman nasionalisme adalah suatu gambaran untuk memetakan letak wilayah negara kesatuan yang pada saat itu masih dalam negosiaisi perjuangan.

Ketiga. Tentu saja kedekatan antara Soekarno dengan pemimpin PKI, D N Aidit. Kedekatan ini merupakan imbas dari meluasnya pengaruh paham Marxisme yang merasuki dunia ketiga sebagai suatu jawaban atas runtuhnya kolonialisme. Euforia kaum merah ini ditandai dengan kemenangan kaum Bolsevik di Rusia yang diarsiteki oleh Valdimir Ilich Lenin.

Efek Bola Salju

Dalam analisis Samuel P Huntington, proses demokrasi ditandai dengan sejarah pergolakan suatu negara, Italia pernah menjadi negara paling fasis di dunia di bawah komando Mussolini sebagaimana dengan Jerman dengan arogansi Nazinya Hitler. Dan, hal itu kemudian runtuh dalam gulungan sejarah dan kini menjadi warisan cerita horor manusia yang benar-benar pernah ada. Perkembangan itu kemudian berbalik dengan pendekatan teori efek bola salju. Artinya bahwa, ada proses dialektika yang terjadi terus menerus dalam mencari bentuk-bentuk tata sistem suatu negara yang berdaulat.

Yang terjadi dengan ide Nasakomnya Soekarno sungguh di luar dugaan imajinasi idealitas politik. Karena yang terjadi adalah kekerasan politik dalam perebutan kekuasaan. Soekarno mungkin tidak mengira kalau komunisme bukanlah suatu aktualisasi paham Marxian yang dibingkai dalam suatu partai yang bernama PKI (Partai Komunis Indonesia), secara landasan filosofis, Marxian bukanlah ideologi yang bisa menerima paham lain, dan aplikasinya dalam suatu tatanan kenegaraan ia menolak pluralisme demokrasi. Sebagai contohnya bisa dilihat pada alam kebebasan politik pasca revolusi Rusia. Ditangan Joshep Stalin, di sana tidak boleh ada nada lain selain nada komunis. Bahkan suara sastra pun dilarang, sebagaimana yang dialami novelis Rusia, Boris Pasternak dalam karyanya, Dr. Zivago yang terkenal itu.

Akibat-akibat politik yang kemudian terjadi di dalam percobaan suatu sistem kenegaraan memang bisa berakibat fatal. Hal itu dikarenakan dengan tidak matangnya suatu konsep yang hendak diterapkan.

Benturan ide demokrasi dan perangkatnya muncul ke permukaan setelah belum siapnya suprastruktur pada masyarakat. Sejarah mengingatkan kalau masyarakat kelas bawah Indonesia di ibu kota pada saat pemerintahan Soekarno memang masih disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Ada hal yang tidak sinergis antara ide besar seorang Soekarno dengan kondisi riil masyarakat. Penyair Taufik Ismail merekam hal itu dalam potongan puisinya, Syair Orang Lapar.

            …..lapar lautan pidato
            Ranah dipanggang kemarau
            Ketika berduyun mengemis
            Kesinikan hatimu.............kuiris........[1]

Kesaksian seorang penyair terkadang lebih jujur dibanding kesaksian seorang sejarawan. Pada dekade 60-an, gerakan protes intelektual perkotaan yang dalam hal ini para mahasiswa memang telah gencar dilakukan untuk meneriakan kata tidak sepakat dengan gaya kebijakan Soekarno. Ide Soekarno penuh dengan wawasan kebangsaan yang mendunia, sehingga sibuk berpidato dengan alokasi waktu sampai berjam-jam di hadapan khalayak dibanding menata tata ekonomi rakyat.

Lontaran gagasan Neokelim atau neo kolonialisme dialamatkan ke Malaysia sehingga perlu untuk diganyang. Dampaknya kemudian, adalah tenaga negara difokuskan untuk suatu invasi ideologi terhadap sesama negara Asia Tenggara.

Dalam perjalanannya di bawah Soekarno, Indonesia dikenal dengan ide-ide dalam memangkas habis watak imprealisme di dunia ketiga. Yang kemudian menjadi rujukan revolusi bagi negara-negara dunia ketiga lainnya. Hanya saja, bentuk ideal suatu pemerintahan yang tahan terhadap gilasan sejarah dan pergantian rezim tidak ada di negara kesatuan ini, dan masih jauh dari konteks yang membumi dalam meletakan fondasi sistem pemerintahan yang bisa diterima oleh seluruh wilayah kepulauan.

Di usia ke-64 tahun saat ini, Indonesia masih kerap mengeluarkan darah. Gerakan separatis (GAM, OPM, RMS) boleh saja telah meredup atau bubar, akan tetapi hal itu tentu menjadi bom waktu bagai eksistensi NKRI. Mencuatnya terorisme dengan bentuk gerakan horisontal. Haruslah dilihat sebagai bentuk-bentuk kekecewaan dalam segala hal, kalau masih ada kaum atau kelompok yang belum puas dengan tata kelola negara ini.

Merawat Indonesia

Jika Ho Chi Minh disebut sebagai bapak komunis Vietnam, Mao Tse Tung juga disebut bapak komunis Cina, dan Lenin pasti juga disebut sebagai bapak komunis Rusia. Hal itu disebabkan oleh karena ketiga tokoh tersebut memilih tegas dalam pahaman yang diyakininya sebagai sesuatu yang benar dan tak bisa dicampur baurkan oleh paham lainnya.

Jika diukur dengan garis, maka ia tegak (vertikal) atau melintang (horisontal) dan tidak miring[2] (antara mau tegak lurus dan melintang). Bila kita mau menetapkan suatu tokoh (bapak komunis) di Indonesia, tentu ragam perdebatan akan muncul dan tidak ada kesepakatan. Karena Hos Cokrominoto, Semaun, DN Aidit, Tan Malaka, dan Soekarno bisa masuk dalam nominasi.



Analogi intelektual miring menggambarkan ketegasan dan keluasan konsep dan ide dalam suatu kepemimpinan dalam mengaktualkan kebijakan, Hitler yang fasis tidak masuk ke dalam intelektual garis miring karena ia tegak pada paham Nazinya. Tetapi, ia tidak masuk kedalam intelektual organik dalam kerangka Gramscian karena ia tidak berfungsi bagi kaumnya. Dan, Soekarno masuk ke dalam intelektual miring dengan percobaan Nasakomnya, tetapi ia termasuk ke dalam golongan intelektual organik karena berfungsi bagi kaumnya.

Untuk merawat indonesia, meminjam analogi almahrum musikus, Hary Roesli. Ibarat seorang manusia, Indonesia ini sudah tua dengan umurnya yang sudah kepala enam, jadi mestinya ia sudah henti untuk mengeluarkan darah. Sisa duduk santai menikmati masa usianya yang sudah melewati onak dan duka. Tetapi hal itu tidak terjadi, Indonesia masih saja berdarah dengan segala bentuk konflik horisontal antar anak bangsa.

Sampai di sini. Saya sepakat dengan Ali Syariati, intelektual muslim progersif asal Iran, kalau demokrasi hanyalah suatu tahapan bagi proses pendewasaan masyarakat dalam ketatanegaraan. Selebihnya ada pada beberapa kemungkinan baru yang bisa saja terjadi dari hasil dialektika perkembangan pahaman suatu masyarakat.

Sering dikatakan kalau kapitalisme merupakan jalan pertama bagi tatanan masyarakat, komunisme sebagai jalan kedua, sosialisme jalan ketiga, dan sosialisme religus sebagai retasan jalan keempat. Kesemuanya mengandung konsep demokrasi dalam kapasitasnya. Dan, sudah diujicobakan dalam pentas sejarah. Nah  Kira-kira jalan-jalan baru apakah masih bisa muncul?

***

Pertama kali dimuat di Majalah Mandat edisi 1-2010
Dimuat kembali di bulletin ilalang edisi 4-2010



[1] Lengkapnya lihat buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail, hal. 33 (Yayasan Ananda, Yogyakarta 1993.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap