Skip to main content

Tegallao Temmateta (Mengenang Puang Matoa Bissu Saidi)




Puang Matoa Bissu Saidi
Tegallao Temmateta(ke mana pun kita pergi, pasti jua akan mati), ucap Puang Matoa Bissu Saidi di hadapan para hadirin pada ritual mappalili di Segeri, Pangkep, Sulawesi Selatan tahun 2010 lalu. Dengan bahasa Bugis, beliau menjelaskan tentang hal ikhwal kehidupan umat manusia di dunia tengah. Sebuah penjelasan yang bersumber dari naskah La Galigo.

Engka tellu lino. Botting langi, onronna dewata E. Lino tengnga onronna rupa tauwe nennia ri peretiwi. Laoko mai massuajang tettongi tongengnge(Ada tiga dunia. Dunia atas (botting langi) tempatnya para dewa. Dunia tengah tempatnya umat manusia dan ketiga dunia bawah (peretiwi, buriq liu),” nasihat lainnya yang sering ia sampaikan.

Terlahir dari keluarga sederhana pasangan Wak Rudding dengan Dg. Tiha. Saidi kecil sebagaimana anak seusianya juga mengisi hari-harinya dengan bermain dan sempat menamatkan pendidikannya hingga lulus SMP. Setelahnya, ia tak lagi memilih jalur pendidikan untuk menatap kehidupannya. Menurut Ambo Tuo, adiknya, Saidi memilih untuk menjadi perias pengantin (indo botting) mengikuti bissu Nure saat itu. Berawal dari sanalah ia kemudian menghibahkan hidupnya untuk suatu pekerjaan yang sama sekali tidak biasa. Melakoni suatu warisan (melanjutkan) adat budaya Bugis, ma’bissu.

Perjalanan ma’bissu selanjutnya tidak ditempuh dengan mulus. Dalam pengakuannya, Puang Matoa sering kali harus menutup telinga mendengar ejekan orang-orang yang tidak paham ma’bissu. Disebut berbuat sirik dan celaan lainnya. Namun, Puang Matoa Bissu Saidi mencukupinya kalau kesemua itu merupakan konsikuensi yang harus diterima. Makkotosie kasih wereku(beginilah jalan yang harus saya jalani), kata beliau pada suatu bincang-bincang di kediaman pribadinya di Kampung Lette. Rumah panggung sederhana berhimpitan dengan rumah warga yang lain. Mesti melalui lorong kecil yang tak muat dilewati kendaraan roda empat sehingga kendaraan harus diparkir di luar lalu berjalan kurang lebih 50 meter. Di rumah itulah ia tinggal kalau tidak sedang berada di Arajang yang berada di Segeri, sekitar 30 menit perjalanan menggunakan angkutan umum atau sepeda motor.

Sisi Lain 

Wetttunna kasih lokkaika mai, makkeddai. Amma malise-lise’na sedding. Kubali makkeda. Iye na, manreko maega. Makkedasi, de’nelo no amma, mate’de sedding kupallimbang no ri cigoro’ku(sewaktu mengunjungiku, ia bilang. Amma (ibu) badanku sudah berisi. Ibunya lalu bilang, Iya anakku, makan yang banyak. Ia (Saidi) mengatakan lagi, nasi sepertinya tidak mau turun ke lambung).

Hal di atas merupakan petikan obrolan dengan Dg Tiha yang ia tuturkan kembali ke saya saat melayat. Pada suatu kesempatan, ia menyempatkan datang ke rumah ibunya untuk melepas kangen setelah dirawat di rumah sakit. Perbincangan dengan ibunya itu mungkin sebagai petanda sebagai bentuk pamit. Karena hari-hari berikutnya ia kembali dirawat di rumah sakit.

Sekitar pukul dua dini hari 28 Juni 2011, ia dilarikan ke rumah sakit Dr Wahidin Makassar. Keterangan dari pihak keluarga yang mendampinginya, beliau (Puang Matoa) kondisinya sangat lemah. Ke esokan harinya pada pukul 16.00, Puang Matoa Bissu Saidi berpulang ke rahmatullah, yang ia selalu sebut sebagai Patotoe. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Seketika pesan pendek merayapi hape masyarakat Pangkep yang mungkin juga sampai ke Robert Wilson yang menyutradarai pemenatasan I La Galigo yang tentu mustahil kalau hari itu juga tak mengetahui kabar kematian salah satu performer teater yang dibesutnya itu.

Memeng de’gaga ana’na, mingka maega taneng-tanenna(Memang tidak ada anaknya, tetapi banyak tanamannya (anak didik, bisa juga dipahami sebagi amal baiknya), ujar Dg Sehe, seorang tetangganya. Ia mengenal sosok Saidi sebagai manusia yang ramah, senang membantu, dan dermawan. Sepulang dari Prancis, Dg. Sehe salah satu dari sekian banyak tetangga yang mendapat oleh-oleh berupa Sarung dari Puang Matoa.

Selain sederhana, Puang Matoa Bissu Saidi menjalani hidup zuhud yang tak banyak diketahui oleh orang. Dengan kiprahnya yang dikenal banyak pejabat, tentu memiliki berbagai kesempatan, tetapi selalu menolak untuk mengharap iba dari siapa pun. Rumahnya tetap kecil, dan ia akan menggunakan uang pribadinya sendiri untuk suatu acara ritual, jika tak mendapat bantuan dari pihak pemerintah. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk tanggung jawab mengemban amanah penjaga adat.

Setelah kematiannya, sempat timbul desas-desus akan tempat pemakaman beliau, ada usulan kalau tempat yang pantas, ialah di Pallawa (area pemakaman para pahlawan di Bungoro, Pangkep). Namun, jauh sebelum Puang Matoa Saidi jatuh sakit, ia selalu berpesan (meminta) kepada keluarganya agar kelak ia dimakamkan di kampung halamannya.

Niatnya itu terpenuhi, di sisa sore 29 Juni, diantar ratusan pelayat dari pelbagai kalangan ke sebuah pemakaman umum di Desa Taraweang, Kampung Baru Dusun Teppoe, Labakkang bersebelahan dengan kuburan neneknya dari pihak ayah yang dikenal dengan sebutan nenek Dippang.

Perilaku Kita Selanjutnya

Puang Matoa Bissu Saidi adalah salah satu nama dari beberapa bissu yang ada di Pangkep, Wajo, Soppeng, dan Bone. Kehadiran Bissu Saidi sebagai pemimpin para manusia bissu adalah catatan tersendiri dalam sejarah bissu. Bisa dikatakan sebagai era titik balik dari masa kesuraman di masa lalu.

Bissu Saidi dan  lainnya merupakan pelaku sejarah ketika para bissu diharamkan tampil di depan publik. Pada salah satu kesempatan, Puang Matoa Bissu Saidi menceritakan pengalamannya di mana ia harus menyamar dalam melakukan sebuah prosesi ritual.

Cerita masa lalu itu kemudian berganti setahap demi setahap dengan berbagai upaya pendampingan berbagai pihak, baik secara perseorangan yang melakukan penelitian, maupun sejumlah lembaga (LSM) yang melakukan advokasi akan keberadaan komunitas bissu. Lalu, pada tahun 2004 ketika Robert Wilson memiliki hajatan membawa epos I La Galigo ke pentas panggung teater kontemporer, maka dimulailah aktifitas yang semakin padat dari seorang Puang Matoa yang secara langsung ikut mengangkat kembali nama manusia bissu kepermukaan publik Indonesia dan dunia.

Tetapi, cukupkah kita bangga dengan semua itu, jika harus ada penghargaan, maka apa yang terbaik. Kembali pada suatu kesempatan bincang-bincang di tahun 2010 lalu. Puang Matoa Bissu Saidi berujar lirih, bahkan sangat lirih. “Aga pae, Nak, yami mutommie jamang-jamange wedding ri jama. Nakko pale engka parekki doi, ri tarimai sibawa madeceng. Nasaba makko memenni atuongenge”. (Beginilah, Nak, inilah pekerjaan yang dapat dilakukan. Kalau ada yang memberi uang, kita terima sebagai kebaikan. Karena memang beginilah kehidupan)

Kuru sumange’ta Puang. Tabe. (Semangat jiwamu Puang. Tabik) Selamat jalan. Salam Takzim.
***
Pangkep,29 Juni 2011 (Enam jam setelah pemakaman)
Dimuat di  Fajar, 03 Juli 2011

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap