Skip to main content

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng


             

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.


Beberapa penjual kue tradisional khas Sulawesi Selatan ini salah satunya bisa dijumpai di sudut pasar Toddopuli Raya yang dikelola oleh Hj. Marawiah. Menempati sebuah lapak kecil. Ia mulai berjualan pada pukul empat sore hingga pukul sepuluh malam, dengan dibantu seorang anaknya, Hj. Marawiah mengelola beberapa jenis kue putu yang semuanya memiliki cita rasa khas yang berbeda.

Pertama, Putu soppa yang berarti ditusuk, kue putu jenis ini bentuknya bulat memanjang berwarna putih yang ditaburi kelapa parut dipermukaannya. Kedua, Putu cangkir yang memiliki bahan dasar tepung ketang, pada umumnya kue putu ini berwarna cokelat, karena tepung ketangnya dicampur dengan gula merah yang di dalamnya berisi kelapa parut. Namun ada juga putu cangkir yang berwarna putih karena tidak dicampur dengan gula merah. Ketiga, ialah putu ambon, jenis ini tidak jauh berbeda dengan putu cangkir baik dari penggunaan bahan dasarnya maupun bentuknya yang menyerupai cangkiri (gelas) terbalik. Hanya saja isi dalamnya bukan kelapa parut melainkan gula merah. Jenis terakhir adalah putu pesse atau biasa disebut pesse palu yang berarti dipijit atau ditekan ke dalam takaran. Berbeda dengan jenis putu lainnya, putu pesse ini tidak lagi dikukus karena bahannya sudah dimatangkan sebelumnya, yakni beras ketang digoreng dulu sebelum diolah menjadi tepung yang dalam pembuatannya tepung dicampur dengan kelapa parut dan parutan gula merah hingga merata.
***

Sudut lain keberadaan penjual kue putu di Kota Daeng ini bisa dijumpai di Jl. Tamalete I di pinggir lapangan Perumnas yang berada pas depan gedung PLN Sulselbar. Berbekal grobak, Dg. Halijah melakoni hidupnya sebagai penjual kue putu sejak sepuluh tahun yang lalu. Sama dengan Hj. Marawiah yang juga merupakan sepupunya. Ia pun memulai jualannya pada sore hari hingga larut malam. Hal itu dipilih dikarenakan prospek penjualan di malam hari jauh lebih menjanjikan karena Dg. Halijah maupun Hj, Marawiah menghabiskan rata-rata 15 liter untuk masing-masing putu cangkiri, putu soppa, putu ambon, dan 6 biji kelapa untuk putu pesse.

Dalam penuturan Dg. Halijah, kegiatan menjual kue putu ini ia lakukan sebagai bentuk perjuangan ekonomi keluarganya. Ia memiliki anak yang masih sekolah dan jelas membutuhkan biaya. Ia tak memiliki kegiatan ekonomi yang lain. Jadinya, ia menantang dinginnya malam kota Makassar dengan menjajakan kue putu. Ia sendiri dibantu oleh anaknya dalam melakoni pekerjaan yang sudah dikerjakan sejak datang di Makasar awal tahun 90-an. 
***
Lengkapnya jelajah malam menelusuri titik-titik penjual kue Putu juga mesti singgah di depan pasar Pa’baengbaeng yang merupakan penjual kue putu yang paling lama di kota Daeng ini. Yakni Hj. Dg. Marannu yang mengelola kios kue Putu sejak pertengahan tahun 70-an. Ketika saya berkunjung ke sana, tampak para pengunjung yang selalu ramai dan rela mengantri demi mencicipi enaknya kue putu buatannya. Menurut pengakuan Dg. Sahid anak lelaki Hj. Dg. Marannu, tak jarang ada pembeli yang sudah memesan terlebih dulu untuk menghindari antrian. Mengingat proses pembuatan kue putu ini lumayan lama.
***

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…