Skip to main content

Pembangunanisme dan Genosida Kebudayaan

 
         
Atas nama pembangunan dan modernisasi, maka suatu daerah akan mengalami sebuah euforia dari geliat ekonomi yang ramai, di mana jenis bangunan fisik yang megah dan lokalisasi pusat bisnis menjadi sebuah barometer dari pencapaian kemajuan tersebut. Bahkan kesakralan lokasi situs sejarah disulap atas nama pembangunan.

Lalu pertanyaan sederhana kita, semua itu buat siapa! Jika diperuntukkan buat masyarakat, lantas mengapa ruang publik yang dulunya menjadi tempat interaksi komunal yang bebas digunakan, kini berubah menjadi tempat transaksi ekonomi.
Hal ini tak jauh beda dengan keinginan mendasar dalam imajinasi sebuah masyarakat yang hendak bernostalgia dengan kejadian masa lalu dengan situs sejarah tanpa sekat apapun. Tapi hal itu perlahan akan terhapuskan dengan pendekatan pembangunanisme hasil proyeksi pemerintah dengan pihak swasta yang menginterpretasikan ulang situs sejarah secara sesat. Hasil akhirnya akan berdampak pada pengabuaran ingatan masyarakat terkait sejarah lokal sebuah daerah.
Novelis Ceko,  Milan Kundera mengatakan melalui karya monumentalnya Kitab Lupa dan Gelak Tawa’ kalau langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya, hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya, dan sejarahnya. Maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan melupakan apa yang terjadi sekarang dan masa lampau.
Mengacu dari analisis tersebut maka kita bisa menebak masa depan masyarakat yang secara perlahan menjadi sebentuk entitas yang tak lebih dari sebuah objek mati untuk diarahkan tanpa tujuan yang jelas dan diatur ke dalam medium rekayasa sosial yang pincang. Hal ini tak terlepas dari gerak globalisasi dewasa ini yang begitu cepat dengan perangkat teknologi tercanggihnya yang mengakibatkan pengalineasian tradisi komunal masyarakat.
Melalui penjajahan pembangunan ini, secara sederhana pola pikir manusia secara personal akan didominasi oleh ransangan proyeksi modernisme yang digagas oleh Mc Clelland. Dari hasil penelitiannya ia memetakan tiga bentuk varian terhadap manusia. Pertama, kebutuhan manusia akan prestasi (need for achievement). Kedua, keinginan untuk bersahabat (need for affiliation). Ketiga, kebutuhan untuk berkuasa (need for power). Hal inilah yang dijadikan petunjuk teknis dalam melihat manusia agar dikatakan modern atau tidak. Jika kebutuhan manusia berada pada need for affiliation yang tiggi maka manusia tersebut sulit bertahan dalam alam modernisme. Karena modernisme membutuhkan need for achievement yang didukung oleh need for power.
Teori ini bisa disederhanakan lagi dengan memberi gambaran, kalau misalnya anda melihat pajangan foto masa lalu Benteng Sombaopu, Benteng Roterdam, atau lapangan Karebosi, kemudian anda mengamatinya dengan seksama lalu ditanya terkait apa yang anda lihat dari foto tersebut?
Bila anda menjawab kalau foto masa lalu itu mengingatkan tentang sejarah masa lampau dan tentang sejarah penguasaan atau penjajahan yang pernah menghinggapi pulau sulawesi ini, maka berdasarkan teori modernisme Mc Clelland, anda dikategorikan sebagai manusia yang tidak memiliki keinginan untuk berprestasi dan tidak memiliki kuasa. Lain hal jika anda menyimpulkan kalau anda melihat sebuah sarang burung yang besar dan water boom pada foto Benteng Sombaopu, melihat ada Restoran dan Hotel pada Benteng Roterdam, dan melihat sebuah mal yang megah pada foto lapangan Karebosi. Maka di situlah anda baru masuk kategori manusia modern. Karena need for achievement anda sangat tinggi di atas need for affiliation.
Pandangan modernisme inilah yang menggerogoti kebijakan pemerintah yang disokong oleh para pemodal untuk merevitalisasi fungsi dan makna cagar budaya peninggalan masa lalu. Karena dalam logika modernisme lebih menitikberatkan pada efisiensi tata laku manusia dalam berinteraksi. Gejala lainnya mencakup pada penghilangan bentuk praktik komunal masyarakat seperti budaya gotong royong yang dianggap bertentangan dengan manusia modern, mengingat adanya kecenderungan manusia untuk tampil secara individual untuk mencapai prestasi.
Pada perkembangan masyarakat selanjutnya akan menuju pada homogenitas atau dunia yang beragam dan berbudaya tunggal. Herbert Marcuse, menyebutnya sebagai manusia satu dimensi (one man dimention). Itulah tujuan akhir dari gerak globalisasi yang digerakkan model terbaru perkembangan kapitalisme yang bernama neoliberalisme.
Genosida Kebudayaan
Dalam perjalanan menuju puncak modernisme itulah maka semua praktik-praktik keanekaragaman perlahan akan tersingkirkan, padahal dari keanekaragamanlah semua suku dapat hidup secara berdampingan dalam bernegara yang menjadi ciri khas dari republik ini atau secara lokalitas di Sulsel atau daerah lainnya. Jika ada yang dipertahankan itu tak lebih sebagai bentuk imagologi (pencitraan) dari setingan kosmetik pariwisata saja untuk mendukung kepentingan ekspansi gurita ekonomi kapitalis, sebagaimana yang terjadi pada tempat-tempat pariwisata di sejumlah daerah yang dikelola pihak swasta. Logika ini, menempatkan pemerintah sebatas menuruti hubungan dagang dari kontrak kerja sama yang ada, dan harus diingat kalau pemerintah hanya mendapat sebagian kecil dari retribusi serta pajak dari semua ini.
Lewat laju pembangunanisme yang sebenarnya merupakan wacana lama, di mana paham ini menjadi “agama” baru pada rezim orba di masa lalu yang perlahan mengubah pandangan masyarakat menuju tafsiran “kebudayaan” baru. Sehingga mengamini kalau gerakan pembangunan-pembangunan fisik adalah merupakan petanda suatu kemajuan dan kesejahteraan negara, meski pada kenyataannya dampak sosial dari laju pembangunanisme ini malah membuat demarkasi sosial yang sangat terjal hingga hari ini.
Masyarakat urban sebagai komunitas pertama yang akan mengalami dampak dari pengamputasian ruang publik tak lagi tahu dan kehilangan waktu untuk merefleksikan kehidupannya dalam ruang komunal yang sudah tergadai. Komunikasi budaya masa lalu sudah mati dari gilasan laju pembangunan yang sama sekali tak menyisakan ruang interaksi komunal yang bebas. Pada posisi ini masyarakat terjebak pada determinisme sejarah yang terus berulang sampai generasi berikutnya, sehingga apa yang terjadi hari ini, nantinya hanya menjadi dongeng getir yang akan diceritakan para orang tua pada anak-anaknya.
Proyeksi kebijakan bernafas pembangunanisme (develomentalisme) ini akan menjadi kecelakaan sejarah yang sangat fatal yang akan mengakhiri seluruh jejak arkeologi kehidupan masyarakat pada suatu daerah, sebagaimana yang digelisahkan oleh Milan Kundera kalau genosida kebudayaan suatu masyarakat akan terjadi jika memori ingatan tentang masa lalu dikaburkan.
Need for power, need for achievhement, dan need for affiliation seharusnya menjadi keseimbangan dalam menata dan menjaga warisan kebudayaan masa lalu. Pemerintah yang menjadi pemegang mandat dari masyarakat, seyogianyalah mengoptimalkan kekuasaan (power) untuk selalu besahabat (affiliation) dalam menjaga kelangsungan kebudayaan dan memori komunal masyarakat agar tidak terjadi kepincangan ingatan untuk mengenal sejarah keberadaannya. Karena hal itu juga merupakan suatu prestasi (achievement) yang sangat membanggakan.
***
Pangkep, 25 Maret 2011
Dimuat di Majalah Mandat edisi III November 2011

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…