Skip to main content

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen



Dok. Kamar Bawah, 2011



Aku hanya bisa ke Indonesia
 kalau aku menanggalkan ke Indonesiaanku
Sobron Aidit

Dalam sejarah trauma pasca 1965, tepatnya setelah peristiwa G30S/PKI dalam bahasa Orba. Ibu kota disibukkan dengan segala bentuk pengidentifikasian dalam memberikan rilis kepada siapa saja yang dianggap PKI. Metodenya bisa bermacam-macam dengan indikasi suka-suka. Selain menggunakan daftar nama dari sejumlah organisasi yang berafiliasi ke partai komunis terbesar ketiga di dunia itu (PKI), juga yang paling absurd, ialah petunjuk nama. Lewat propaganda yang disebar, siapapun akan marah, jengkel, serta akan menyebut setan bila mendengar nama: AIDIT.

Tak pelak lagi, sosok yang bernama Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) adalah DPO nomor wahid dalam perburuan militer saat itu. Sekjen termudah dan yang terakhir dalam sejarah PKI itu telah berada pada garis merah yang telah diharamkan untuk menginjak bumi Indonesia untuk selamanya. 

Sebagaimana akhirnya, di pengujung tahun 1965. Dedengkot Partai Komunis China, Mao Tse Tung menuliskan puisi bela sungkawa kepadanya yang dimuat di majalah berpengaruh di Peking. Pada suatu konfrensi internasional di Kuba, Fidel Castro sendiri yang mengucapkan hal tersebut kepada delegasi China.

Lalu setelah DN Aidit terbunuh, sejumlah sesak bergelayut bisu bagi Sobron Aidit, adik kandungnya yang saat itu tengah berada di China. Pilihannya tetap berdiam di tanah pelarian dan menerima kenyataan kematian kakaknya yang selalu dipanggilnya Bang Amat. Kenangan dengan abangya itu terekam kuat dalam cerpen Razia Agustus yang juga menjadi judul buku kumpulan ceritanya ini, bulan di mana penguasa dan aktivis komunis bermain petak umpet. Semua tempat dirazia untuk mengendus nafas para simpatisan partai komunis.

Dengan bahasa yang sederhana, Sobron Aidit merekam jejak waktu di bulan yang mencekam itu. Detailnya, ia berkisah tentang kondisi politik Indonesia ke dalam kamar kecil kontarakannya di Jalan Matraman Raya nomor 25, Jakarta. Selebihnya ia menuliskan informasi yang beredar perihal kematian abangnya.

Secara khusus Sobron Aidit mendedikasikan satu judul buat abangnya dalam buku kumpulan cerpen ini, Bang Amat. Ia mengkisahkan seputar masa remaja Aidit yang mengisi hari-harinya di Belitung. Tanpa sepengetahuan ibu bapaknya serta adik-adiknya. Aidit gemar membantu siapa saja. Mulai dari membuat kandang ayam, menggali sumur, hingga merancang sunatan massal bagi anak-anak yang kurang mampu. 

Meski begitu, kesedihan yang terpendam tetap membuat Sobron Aidit meradang. Pada paragraf akhir cerpen yang ditulisnya di ibu kota Prancis pada Oktober 1992 yang kini ia tinggali sebagai negara yang mengakui keberadaannya sebagai warga negara, ia menuliskan: 

“....Bang Amat, ada yang menyebut dan menuliskan. Sudah di sembur dengan timah panas. Tak tahu di mana kuburannya, di mana nisannya, tak ada. Suatu pernyataan yang ditulis begitu sadis, kasar, dan brutal luar biasa. Apa pun yang kau lakukan terhadap Bang Amat, watak luhurnya takkan mungkin terhapuskan olrh sejarah. Dan, betatapun usahamu untuk menghitamkannya, watak luhur Bang Amat akan dikenang banyak orang.

Buku kumpulan cerpen yang terbit di tahun 2004 ini menampilkan kembali kepiawaian Sobron Aidit sebagai sastrawan yang patut diingat di dunia sastra Indonesia. Bisa dikatakan kalau penerbitan ini merupakan penantian panjang setelah keluarga Aidit diharamkan berkiprah dalam setiap jengkal di tanah kelahirannya sendiri. 

Lelaki kelahiran 2 Juni 1934 Belitung, Sumatrea Selatan ini sewaktu menetap di Jakarta pernah tinggal bersama dengan Chairil Anwar, ia pun pernah menerbitkan buku kumpulan puisi bersama Ajip Rosidi dan SM Ardan yang diberi judul Ketemu di Jalan. Namun sebagaimana diketahui, pembersihan dalam segala lini harus dilakukan oleh penguasa. Selain buku tersebut, dua buku lainnya, Pulang Bertempur dan Derap Revolusi semuanya dilarang beredar.

Dok, Kamar Bawah

Tahun 2006 buku kumpulan cerpen Sobron Aidit  bertitel Prajurit yang Bodoh diterbitkan. Judul itu sendiri merupakan salah satu cerpen dari 12 cerpen yang termuat di dalamnya. Sobron Aidit menuliskan kesaksiannya pada November dan Desember 1974, karena semua cerpen dalam antologi ini bertarik demikian (7 Cerpen ditulis pada November dan 5 cerpen pada Desember). Kisahnya pun beraneka ragam dan murni mewakili semangat zaman dan situasi pada medio 1970. Awal pembentukan karakter negara yang yang lucu karena diisi dengan oknum yang justru tidak paham bagaimana cara menjalankan tugas negara yang terekam dalam cerpen Fiat Justitia, Ruat Caelum (Hal. 67).

Sebagai pembaca pemula pun dijamin bakal menyunggingkan senyum sesudah membaca kelucuan yang serius yang ditawarkan Sobron Aidit. Tak perlu mengerunyutkan jidat dalam menelaah 12 cerpen dalam buku ini, karena penulisnya jelas bukan tipe yang suka membingkai kata dengan sejuta ranting yang membawa pembaca menangkap abstraksi. Ia biasa-biasa saja, sama biasanya dengan tata laku berbahasa manusia pada dekade cerpen ini ditulis. Sebaliknya, humor ditangkap lebih awal yang mengajak pembaca untuk terus menuntaskan jalan cerita.

Hal itu terasa jelas dalam cerpen Prajurit yang Bodoh. Dari judulnya, mulanya saya mengidentifikasi kalau prajurit yang bodoh yang dimaksud ialah prajurit yang tak pandai mengunakan senjata dengan baik. Tetapi, Sobron Aidit membeberkan kebodohan yang subatansial dalam dunia militer. Membuka rahasia, tentulah hal yang sangat diharamkan dalam kesatuan militer.

Sebagaimana akhirnya, seorang prajurit berkumis tebal berpangkat bintang tiga membuka dialog dengan Kasim, seorang anak penjaja kue langganannya. Ia tak dapat mengidentifikasi kalau Kasim adalah anak seorang pemberontak yang ditugaskan sebagai mata-mata. Karena sudah terbiasa dengan situasi di lapangan terbang ditambah dengan dialog dengan kapten yang paling banyak membeli kue. Maka kasim beroleh informasi berapa jumlah personil, berapa kapal terbang, dan pos-pos penjaga. 

Semua informasi itu dilaporkan Kasim pada bapaknya, Talip. Seminggu kemudian lapangan pangkalan udara itu di serbu oleh pemberontak. Begitulah peristiwa yang dicatat Sobron Aidit ketika Bandara Singkawang, Jakarta direbut kaum komunis.

***
Pangkep - Makassar, November 2011

Dimuat di Fajar, 27 November 2011 dengan judul: Mengingat DN Aidit dan Kesaksian Lainnya(Membaca Dua Kumpulan Cerpen Sobron Aidit)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…