Skip to main content

Kita Muda dan Berbahaya

               
               
Semangat revolusi timur tengah terus bergejolak, setelah Tunisia dan Mesir telah usai disirami semangat perubahan. Kini beberapa negara timur tengah lainnya akan menjadi tuan rumah dari pergolakan massa kaum muda. Sebut misalnya Yaman, Bahrain, Libya, dan bahkan Iran sebagai pelopor utama revolusi timur tengah di abad 21 ini tak lepas dari skenario perubahan super cepat tersebut.

Dari sini semangat kaum muda yang progresif semakin menjadi suatu yang menakutkan bagi mereka yang pro status quo, semangat perubahan yang selalu lahir dalam melihat sebuah kemandekan di masayarakat. Dan itulah yang terjadi sehingga gelombang massa terus berpindah lokasi untuk mencari bentuk eksistensi atas perubahan yang mayoritas diwakili kaum muda.

Sejauh ini, kebangkitan negara-negara timur tengah menyisakan beberapa premis untuk mencernanya, selain sebagai suatu jawaban sejarah dari kebosanan menjadi objek terus menerus dari negara-negara barat. Jika mau lebih jujur, masyarakat timur tengah hendak berteriak kalau negara kami kaya dengan limpahan sumber daya alam berupa minyak bumi, tapi mengapa kami miskin dan terbelakang. Selain itu adanya ekses mahzab dalam islam sebagai agama mayoritas yang dianut di kawasan ini, juga turut mempengaruhi kejenuhan strata sosial yang tengah terjadi. Semangat egalitarian sebagai roh agama islam malah hanya milik segelintir penguasa saja dan tidak ada distribusi kesejahteraan dari negara kepada mayoritas masyarakat.

Premis kuat lainnya bisa saja ada skenario besar dari negara-negara adidaya yang sudah bosan menginvasi langsung teritorial negara yang berdaulat di timur tengah dengan terapi kekerasan perang sebagaimana yang terjadi di Irak tahun 2003. Perkembangan lain model invasi jatuh pada pengacauan sistem sosial sehingga lahir ledakan massa, adalah salah satu topik yang bisa saja menjadi dalih kuat dari apa yang tengah berlangsung. Peristiwa revolusi yang begitu cepat terjadi dalam beberapa bulan terakhir tentunya menyisakan tanya yang tak mudah untuk dijawab. Setidaknya untuk kasus Tunisia dan Mesir. Apakah tidak menjadi mungkin kalau desain ini merupakan strategi pengusaan negara-negara timur tengah yang kaya  dengan lahan minyaknya, atau yang paling jujur dalam catatan sejarah ialah untuk meruntuhkan Iran sebagai “hantu” yang paling ditakuti negara-negara barat di kawasan ini setelah revolusi 1979.

Adanya kesamaan realitas sejarah kepempinan yang begitu lama bertahan dengan kondisi sosial yang tidak stabil di mana asumsi ini memang beralasan kuat ketika lamanya suatu kekuasaan dijalankan maka tingkat oposisi juga semakin menguat. Maka langkah untuk membenturkan kekuatan politik dapat dengan mudah dilakukan, patut diingat kalau euforia semangat kaum muda sangat diperhitungkan di setiap jengkal gerakan perubahnan. Dan sejarah sudah mencatat kesaksian tersebut.

Mengguncang Dekadensi

Setidaknya itulah asumsi dasar yang menjadi penyakit bersama yang diidap kaum muda, mereka merancang bentuk perlawanan maya dari laju perkembangan informasi teknologi yang semakin menggeliat. Ruang ini tentu menjadi arena bebas untuk menyebar kegelisahan, mempresentasikan gagasan, dan menawarkan solusi dari realitas strata sosial yang timpal.

Selanjutnya mereka bertemu di wilayah empirik setelah dunia maya sudah mengkoneksikan seluruh jaringan isu yang akan dikawal untuk mencapai satu tujuan. Turunkan penguasa yang sudah lama berkuasa, karena pasti condong pada otoritarianisme, dan itu sudah jelas untuk diindikasikan sebagai kegagalan mengurus negara.

Sisi lain meledaknya bentuk-bentuk protes kaum muda ini tak dapat dipisahkan dari imbas kebijakan praktik politik abad 20 yang menjadikan negara yang sedang berkembang di dunia ketiga sebagai etalase dari produk industri negara-negara barat. Namun sejauh dari kebijakan ini malah semakin melanggengkan kemiskinan dan berjayanya kediktatoran politik yang ditandai dengan lamanya penguasa menduduki jabatan.

Bila menengok sejarah, rata-rata pemimpin yang diturunkan merupakan akibat dari lamanya ia memegang kekuasaan. Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun, Ben Ali di Tunisia 23 tahun, dan Husni Mubarak 30 tahun yang semuanya turun dengan goncangan massa. Pembuktian lainnya yang tengah diuji adalah kekuasaan Moammar Khadafy yang telah menguasai Libya selama 42 tahun.

Kita bisa melihat kalau goncangan kaum muda ini sesungguhnya bertumpu pada anggapan ketidakbecusan para pemimpin memberikan kenyamanan bagi warga. Corak isu ini berarti negara sudah berada pada bentuk finalisasi, hanya saja salah urus yang ditengarai dari perpuratan distribusi kepempinan yang begitu lama. Secara umum, dekadensi inilah yang menjangkiti negara-negara timur tengah, sehingga negara masih jauh untuk dipecah menjadi negara-negara baru sebagaimana yang menghampiri konstalasi negara-negara eropa timur yang mencari bentuk perubahan dengan melahirkan negara-negara baru.

Hanya saja kekhawatirannya akan berdampak pada penanganan pada wilayah global, isu sektoral yang bertumpu pada satu person atau rezim yang menguasai negara itu sangat parsial, padahal isu global proyek pemikiran tentu berkait erat dengan kegagalan yang ada. Kita bisa melihat pada bias kebijakan negara-negara barat pasca kolonialisme dengan memberikan terapi kepada negara-negara bekas jajahan di dunia ketiga melalui pendekatan pembangunananisme (develomentalisme) yang jauh hari sudah menemui ajalnya dan menyisakan perih bagi negara-negara yang telah menganutnya. Selain menyisakan utang luar negeri yang tak kunjung selesai, juga meninggalkan spasi sosial yang sangat jauh antara kantong-kantong masyarakat yang terlampau miskin dan di satu sisi menegaskan adanya kelompok kecil masyarakat yang malah terlampau kaya.               

Lalu bernarkah kalau pergantian rezim pemerintahan atau person presiden bisa menjadi jawaban atas kegelisahan massa yang telah mendedikasikan waktu, pikiran bahkan nyawa untuk sesuatu yang lebih baik?

Kajian isu haruslah tuntas secara menyeluruh, kemerdekaan berdaulat negara-negara dunia ketiga pasca perang dunia kedua harus dilihat sebagai strategi lain atas bentuk penguasaan baru dimana dewasa ini hantu neoliberalismelah yang menjadi wajah baru atas penjajahan tersebut. Jadi strategi massa yang sedang bergejolak di manapun itu terjadi hendaknyalah tidak menapikan koneksi penguasaan dan dominasi dari kepentingan imperialisme global yang salah satunya dicirikan dengan menguatnya invasi perusahaan-perusahaan raksasa yang tergabung dalam Transnational Corporations (TNCs), dan lembaga finansial internasional penganjur utang sekelas International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia.

Sepintas lalu lahirnya gerakan massa kaum muda yang selalu mencatat akan heroisme yang tinggi atas pembebasan pembelengguan kemanusiaan adalah ciri wajib yang selalu muncul dalam setiap fase sejarah. Pertanyaannya, apakah gerakan ini merupakan sebab determinis ataukah justru sesuatu yang bisa digagas, dirancang atau dikonsep sedari awal. Perdebatan ini memang merupakan sikrulitas konsep yang terus berputar pada tataran teori. Tapi jika mengacu pada asumsi freewill, maka gerakan massa menuntut perubahan tentulah sesuatu yang bebas dari kepentingan golongan dan mendasarkan isu pada keseluruhan tataran pemikiran dan aplikasi teori yang menolak tunduk, melainkan menjadi sebuah budaya tanding dari mainstream tata kelola negara yang ada.

Akhirnya, eksistensi negara sebagai tempat bersama untuk mewahanakan kehidupan bukanlah milik sekelompok elit. Jika hal itu masih ada, maka ia akan tertimbun dalam kuburan sejarah yang dalam yang di gali oleh aksi massa kaum muda yang tak tertahankan.

***
Pangkep, 26 Februari 2011
Dimuat di Media online http://www.seputarsulawesi.com

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap