Skip to main content

Kembali Bersekolah Kembali Tertindas





Masa peralihan tingkat pendidikan sudah bergulir, di mana mereka yang lulus SLTA kini disibukkan dengan mendaftar ke jenjang yang lebih  tinggi (Universitas) untuk menyalurkan minat dan bakat terkait pilihan jurusan yang hendak dikembangkan lebih jauh. Siswa SLTP mencari sekolah menengah atas, lulusan sekolah dasar mencari gedung SLTP, dan anak-anak baru masuk sekolah (SD)

Entah mengapa setiap pendaftaran siswa baru, selalu saja terjadi karut tentang proses pendaftaran. Mulai dari pungutan liar, calo kuota kursi di sekolah unggulan, dan lain sebaginya. Secara alamiah, orang tua dan calon siswa tentunya menginginkan sekolah yang memang menyediakan fasilitas lengkap, atau yang biasa yang disebut dengan sekolah favorit (unggulan). Tetapi sayangnya, hasrat itu harus ditahan karena adanya kuota siswa yang harus diterima. Kemudian ditambah seleksi penerimaan siswa untuk menegaskan kalau sekolah tertentu hanya menampung siswa yang "pintar-pintar" saja.

Realitas ini sebenarnya sudah menunjukkan kalau sekolah sudah kehabisan amunisi untuk mengubah siswa menjadi lebih baik. Karena bukankah sudah menjadi tugas sekolah dalam membimbing siswa yang berpotensi untuk tahu menjadi paham. Dan kalau hanya lewat seleksi sebagai asumsi untuk mempetahankan gengsi sekolah tentulah teramat manyakitkan bagi mereka (calon siswa) yang ingin juga memperoleh hak yang sama dalam mengecap fasilitas sekolah yang lengkap. 

Sekolah masa kini memang tak semudah sekolah masa lampau. Menurut ingatan sejarah, cikal bakal sekolah dimulai dengan kekurangan waktu para orang tua untuk mengajari segala hal ikhwal soal kehidupan pada anaknya. Untuk mensiasati situasi itu, maka orang tua menitipkan anak mereka pada orang-orang yang dianggap pintar untuk menjelaskan hal ikhwal tersebut. Selanjutnya kapitalisasi sekolah dilanjutkan dengan lebih modern oleh Jhon Amos Comeneus melalui kitabnya Didaktika Magna (Roem Tapatimasang, 2002), dan terus dikembangkan oleh siapa saja yang hendak berebut berkah dari tafsir penyekolahan anak. 

Sehingga fungsi sekolah sudah sangat bergeser dan bahkan bisa dikatakan mengalami disfungsional. Muatan kurikulum yang menekankan orientasi pasar, yakni lulusan sekolah diset untuk mengisi pangsa pasar yang sedang berkembang di tengah kedigdayaan globalisasi yang hampir menjadi agama baru di dunia ketiga. Dalam hal ini dunia pendidikan telah berganti peran sebagai media untuk mentransfer ilmu, kecakapan, dan pola pikir. Jadi sekolah bukan lagi sebagai wahana dalam mencipta dan merefleksi kehidupan.

Doktrin Daya Nalar Kolektif

Ketika seorang anak didaftarkan namanya di sekolah sejak pertama kali, apakah dimulai dari taman kanan-kanak (TK) atau langsung di sekolah dasar (SD). Maka sejak itu pula, pola pikir anak tercerabut dari budaya lingkungannya. Pengetahuan berucap atau menyebut sesuatu tentu beda dengan anak seusianya yang tidak (sempat) bersekolah. 

Hal pertama yang dapat dijadikan bahan daya rujukan, ialah mengingat muatan kurikulum di Indonesia yang masih terpusat, meski sejauh ini pemenuhan buku mata pelajaran sudah beragam. Tetapi itu tentu telah mendapat rujukan dan kesepakatan dasar dari Kementrian Pendidikan yang merujuk pada Undang-Undang, dan jika sudah berhubungan dengan regulasi. Maka secara struktural wacana bergantung pada siapa yang berkuasa sehingga perombakan mendasar dalam kurikulum masih jauh untuk mencapai orientasi pendidikan yang demokratis.

Hal ini bisa dilihat pada anak usia sekolah dasar (SD) yang mana pertama kali diperkenalkan huruf dan angka. Lalu pengajaran membaca yang sudah pasti monoton karena pengenalan obyek yang tidak sesuai dengan apa yang disaksikan siswa setelah pulang sekolah. Ini yang dimaksudkan dengan tercerabut dari budaya lingkungan. Begitupun dengan angka yang langsung saja ditambahkan, dikalikan, dikurang, dan dibagikan dalam melihat hasil akhir. 

Sama sekali sangat monoton, karena metode seperti itu hingga kini masih bertahan, seolah ada pengecualian kalau kultur masyarakat di negeri ini yang mayoritas agraris. Celakanya lagi, anak-anak petani di pedesaan juga menerima hal yang sama dengan anak-anak sekolah di perkotaan. Perubahan kurikulum atau tepatnya perubahan nama-nama kurikulum sejak penerapan kurikulum 1984 hingga sekarang tidak dibarengi dengan kreativitas para guru, dan bisa jadi guru itu sendiri tidak menyadari akan hal ini. Sehingga metode yang diterapkan belum berubah. 

Pada akhirnya tidak menyadari kalau sedang berlangsung hegemonisasi yang begitu harmonis dari kurikulum yang tak terpahami. Bahwa apa yang ada di balik wajah kurikulum yang diterapkan sama sekali tidak pernah dicurigai terkait motif terselubung yang menjalar ke pikiran para siswa. 

Semuanya dianggap biasa-biasa saja seiring perjalanan waktu. Manusia itu lahir, belajar (sekolah), bekerja, lalu mati. Realitas inilah yang menghinggapi angan lulusan sekolah dan mengisi ekspresi meraup masa depan dari kompensasi selambar kertas yang disebut  ijazah. 

Pembungkaman daya nalar yang sejak awal sudah dilakukan terhitung sejak sekolah dasar hingga ke tingkat Universitas yang kemudian melahirkan manusia-manusia penurut. Karena ingatan telah dikotakkan dan tersimpan dalam sebuah lingkaran. Jika terdengar suarah menggugat, itu tak lebih sebagai guyonan. Hal itu disebabkan ingatan manusia cenderung mengikuti pola dasar yang sudah diketahui sejak awal. 

Selanjutnya akan berhadapan dengan kegamangan dunia baru, kalau dunia sekolah berbeda dengan dunia lingkungan hidup sehari-hari. Padahal, pada mulanya sekolah dimaksudkan untuk membantu permasalahan yang dihadapi di dunia sekitar (kenyataan) bukannya malah menambah masalah baru atau menjadi masalah itu sendiri.

Melacak Hubungan Guru dan Murid

Melihat apa yang ada di dalam keterkaitan suatu hubungan antar manusia, tentulah tak lepas dari adanya saling ketergantungan untuk tetap ada. Pada wilayah inilah sering terjadi penguasaan (dominasi) tehadap sesuatu yang berimplikasi langsung pada kehidupan. Atau masing-masing memiliki kepentingan terselubung untuk melanggengkan dominasi. 

Sejarah umat manusia memang diwarnai dengan penunggangan oleh manusia terhadap manusia lainnya. Pada ranah pikiran yang terlepas dari pengetahuan, bahwa pada hakikatnya manusia sama secara materi dari manusia lainnya. Ilmulah yang membedakan atas kelakuannya tanpa menyempitkan makna pendidikan. Seharusnya institusi pendidikan berperan dalam membebaskan dominasi pikiran terhadap manusia agar tak lagi menjalankan segala bentuk penunggangan yang teraktualkan dalam kekerasan fisik maupun non fisik. 

Dalam sebuah pelaksanaan atas jalannya dominasi bisa terjadi pada semua lini kehidupan, tak terkecuali dalam sekolah. Mulai dari seperangkat peraturan yang menguasai, sehingga sekolah menjadi tempat yang menakutkan dan tak menghargai kebebasan berfikir siswa karena tak sesuai dengan kurikulum. Ditambah keangkuhan guru yang mendominasi semua pengetahuan dan siswa terjebak dalam lubang bejana kosong yang harus selalu diisi. 

Setitik realitas inilah yang terjadi dalam dunia pendidikan. Keberlangsungan dominasi antara guru dan murid masing-masing telah menerima hegemoni yang diakui sebagai sikap profesionalisme bagi sang guru, dan sikap teladan bagi siswa. Parahnya kemudian, penyebutan profesionalisme dan siswa teladan lebih diterima dibanding hakikat pendidikan itu sendiri yang mana sebagai proses menuju pemanusiaan terhadap manusia (Paulo Freire: 2002)

Harmonisasi hubungan guru dan siswa seperti ini secara tak langsung telah menghambat segala kreatifitas siswa dan bagi guru itu sendiri. Penyakit ini mungkin sebagian kecil yang dapat terdeteksi dalam tubuh pendidikan. Di mana secara spesifik guru tak mampu berbuat banyak untuk menjalankan kreatifitasnya, karena profesi yang diembannya juga terjebak dalam dominasi kekuasaan (aturan) dan akhirnya berimbas pada keberlangsungan pahaman pada siswa yang nota bene butuh bimbingan.

***
Pertama kali ditulis, 25 Maret 2006 

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap