Skip to main content

The Green Book dan Nasib Sosialisme Kadafi



Sumber Gambar
Ulasan ini bukan hendak memberi pembelaan terhadap sosok Muammar Kadafi yang tengah dirongrong kekuatan massa di negeri yang telah dipimpinnya selama 42 tahun. Pembahasan ini sebatas memberikan perbandingan pandangan terkait pokok pikiran berdasarkan sejarah situasi di mana Kadafi bisa dilihat sebagai suatu kesatuan yang utuh, jika bisa dikatakan demikian.

Muammar Kadafi dilahirkan pada tahun 1942 dari keluarga muslim yang taat dan hidup dalam keluarga gurun yang nomaden. Di tahun 1965, ia menamatkan studinya dari Akademi Militer Libya dan menghabiskan waktu selama 9 bulan di Inggris untuk sebuah training. Pada tanggal 9 September 1969, melalui sebuah kudeta militer tak berdarah, Kadafi berhasil meruntuhkan tahkta Raja Idris yang mengusai Libya setelah merdeka di tahun 1951. Di mana sosok Kadafi merupakan tokoh yang paling tepat di tengah realitas sosial rakyat Libya yang carut marut akibat monarki absolut yang dijalankan penguasa pada waktu itu.

Di sisi lain, seorang Kadafi adalah pelaku revolusi sosial di zamannya yang telah merumuskan sebuah risalah yang kelak dijadikannya sebagai kitab rujukan utama dalam menjalankan pemerintahannya. Risalah tersebut berupa buah pikirannya dalam bentuk buku yang diterbitkan secara berkala. Bagian pertama diterbitkan pada tahun 1975 yang mengupas tentang teori Internasionale Ketiga yang merupakan jalan aternatif pasca ambruknya komunisme Soviet dan sakitnya kapitalisme AS. Di sini, Kadafi menuangkan gagasannya yang tegas tentang sikap Islam sebagai agama yang dianutnya sebagai rahmatan lil alamin. Dari sini pula aplikasi pandangan sosialisme baru dapat dicernah.

Di tahun 1979, bagian ketiga lanjutan risalah itu diterbitkan lebih awal yang fokus membahas pada pandangan nasionalisme dan sosialisme sebagai suatu fondasi basis sosial untuk menggerakkan sejarah, selain itu, Kadafi tetap menganjurkan sebuah agama bagi sebuah bangsa. Tetapi, agama dalam hal ini lebih ditekankan pada urusan privat dan urusan publik dilihat sebagai masalah nasionalisme yang didasari pada tafsir keagamaan yang berkeadilan. Setahun setelahnya, barulah terbit risalah bagian kedua yang sebelumnya didahului bagian ketiganya, meski begitu, tetap ada fokus pembahasan masing-masing. Bagian kedua inilah yang menegaskan untuk diterapkannya praktik politik dan ekonomi berlandaskan pada semangat sosialisme baru yang menguntungkan bagi semua pihak.

Kesemua risalah tersebut di atas akhirnya terangkum dalam buku yang disebut oleh Kadafi sebagai buku hijau (The Green Book) yang di Indonesia sendiri sudah terbit pada tahun 2000 dengan judul “Menapak Jalan Revolusi”. Sehingga pada pada tahun 1977 Kadafi menyerahkan kekuasaan kepada otoritas rakyat dan menyebut Libya sebagai Republik Rakyat Sosialis Arab Libya. Maka dari konsep negara seperti inilah di Libya tidak dijumpai sejumlah partai sebagaimana negara-negara modern lainnya. Karena bagi Kadafi sendiri suara rakyat tidak bisa diwakili dan demokrasi yang sesungguhnya adalah rakyat bersuara atas nasibnya sendiri.

Lewat The Green Book yang merupakan buah pikiran Kadafi sendiri, maka kita bisa menelaah secara langsung pokok-pokok pikiran seorang kolonel yang pernah melakukan sebuah kudeta di negerinya. Kadafi memang bisa dilihat sebagai sosok kontroversial sekaligus diktator yang saat ini tengah diobok-obok oleh kekuatan massa di negerinya sendiri, tetapi sekaligus bisa dilihat sebagai sosok yang memberikan keadilan bagi rakyat Libya jika dilihat dari konteks sejarah Libya di masa lalu di mana rakyat terbelengu oleh monarki absolut yang dijalankan penguasa kala itu.

Membaca Kadafi juga mestilah melihat konflik era perang dingin antara dua kekuatan dunia yang sedang berseteru antara blok timur yang dikendalikan oleh Sovyet dan blok barat yang dikomandoi oleh Amerika Serikat. Pasca runtuhnya kedua kekuatan ini yang masing-masing hendak menanamkan paham ideologinya di negara-negara dunia ketiga. Namun hal itu juga mengalami kegagalan sehingga melahirkan perkembangan paham sosialisme yang sifatnya sangat eksperimental.

Dari rentetan peristiwa inilah Kadafi mencatatkan namanya di lembaran sejarah dunia sebagai salah satu tokoh dunia yang berhasil menciptakan eksperimen sosialisme di negaranya sebagaimana kita melihat Fidel Castro dan Che Guevara yang juga mempraktikkan sosialisme di Kuba atau Daniel Ortega di Nikaragua berdasarkan tafsiran-tafsiarannya tentang sosialisme.

Memang, sejak awal media barat sering menggolongkan Kadafi sebagai seorang teroris yang mengkudeta pemerintahan yang sah dan bahkan memberi ruang bagi pelatihan militer untuk kepentingan kegiatan terorisme, selain itu Kadafi yang lebih memilih hidup dan menerima tamu-tamunya di tenda dianggap sebagai bentuk pemimpin yang tidak berbudaya serta mengidap penyakit psikopat (penyakit kejiwaaan). Pelabelan inilah yang yang sering di konsumsi oleh kebanyakan orang dalam melihat sosok kontroversial Kadafi.

Membaca The Green Book seakan memberi persfektif lain terkait sosok Kadafi yang pada dasarnya juga merupakan seorang pemikir sosial yang berani memberikan pandangan lain terkait perubahan sosial dan berani mengambil risiko sehingga memungkinkan terbukanya ruang-ruang alternatif bagi rakyat. Ketegasan lainnya memperlihatkan sosok keras Kadafi mengkritk kaum agamawan yang sebatas menjadikan masjid-masjid sebagai tempat penyembahan berhala semata, karena para kaum “ulama” selama ini di anggap sebagai peyambung lidah kaum kapitalis dalam mereduksi makna islam yang sesungguhnya.

Sosialisme ala Kadafi

Secara umum dan agak sombong, Kadafi menjelaskan kalau diktum yang termuat dalam The Green Book adalah jawaban atas tiga masalah pokok yang dihadapi dunia saat ini yakni: Problem demokrasi, problem ekonomi, dan problem sosial

Pada problem pertama, Kadafi menjelaskan kembali hakikat demokrasi yang lahir dan berkembang pada negara polis di Athena masa lalu, di mana rakyat tidak dibatasi pada perwakilan-perwakilan sebagaimana yang berkembang dewasa ini. Problem kedua, di sini Kadafi mengutuk keras praktik kapitalisme atas kepemilikan pribadi yang dianggapnya sebagai wujud dikatator paling nyata di dunia, dan mengembangkan sosialisme lama menjadi sosialisme baru sebagai solusi. Jika dalam sosialisme lama negara berperan aktif dalam mendistribusikan kekayaan. Maka model sosialisme baru, rakyatlah yang berperang aktif dalam menjawab kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam memenuhi kepentingan keluarganya. Untuk itulah pada tahun 1978-1980 Kadafi menghapuskan perusahaan-perusahaan pribadi dan membatasi gerakan memperkaya diri secara pribadi.

Terakhir, untuk problem sosial, Kadafi memberi tawaran kalau masalah sosial yang dihadapi dalam perkembangan lebih lanjut sosialisme baru adalah perlunya penguatan dari dalam keluarga. Karena dari keluargalah lahir suku, bangsa dan masyarakat dunia secara universal, dan keluarga pula yang memperkuat solidaritas dan keakraban yang kokoh dalam membangun pradaban.

Ketiga pokok di ataslah yang selama ini telah dijalankan oleh Kadafi dalam menahkodai Libya, dan jika hari ini muncul pergolakan massa terkait ketidakpuasan terhadap praktik sosialisme ala Kadafi dalam kurung waktu yang memang sudah lama, berarti ada suara lain yang hendak melahirkan zaman baru dari perkembangan masyarakat dalam menemukan titik-titik peradaban baru. Karena bagaimanapun juga, sosialisme dalam tafsiran Kadafi tentulah tak lepas dari perhitungan tepat salahnya sebuah ijtihad pemikiran. Lagi pula gagasan tentang sosialisme yang berpangkal dari muara pemikiran Karl Marx juga telah wafat dan terkubur dalam kuburan sejarah yang pada sifatnya senantiasa berkembang dan terus berkembang.

Sekali lagi, ulasan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memposisikannya sebagai penafsir tunggal atas pemikiran Kadafi yang tertuang dalam The Green Book. Pada akhirnya, tumbangnya seorang diktator yang pernah ditumbangkan oleh Kadafi, ternyata di akhir waktu yang tak terbatas juga harus memperkirakan waktu yang saat ini tengah menghampirinya. Sebuah revolusi sosial.
***
Pangkep, 1 Maret 2011
Dimuat di media on line www.seputarsulawesi.com

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…