Skip to main content

3 Idiots dan Perilaku Pendidikan Kita





Suasana dalam kabin pesawat Air India membuka dialog film 3 Idiots dengan adegan Farhan (diperankan R Madavhen) sedang menerima telepon saat pesawat akan lepas landas.

Entah apa isi pembicaraan dalam telepon tersebut, yang pastinya, Farhan sangat gelisah hingga melepas sabuk pengamannya lalu berdiri. Tangan kanannya mendekap dadanya untuk menahan sakit, dan tak lama kemudian ia terjatuh. Melihat itu, pramugari langsung menghubungi pilot kalau ada penumpang yang pingsan. Kemudian dengan sigap pilot langsung melakukan pendaratan darurat.

Adegan selanjutnya, Farhan dibopong dengan kursi roda untuk segera diberi perawatan. Tetapi apa lacur, Farhan tiba-tiba melompat dari kursi roda yang membuat dokter, pramugari dan seorang lelaki yang mengawalnya, kaget. Penonton lalu sadar kalau adegan pingsan di kabin pesawat tadi merupakan akal bulus Farhan untuk membatalkan keberangkatannya. Sungguh sebuah anomali yang membuat penonton tertawa.

Film Bolliwood yang disutradarai Rajkumar Hirani ini bercerita tentang tiga orang sahabat dari latar keluarga yang berbeda yang melanjutkan pendidikannya disebuah sekolah tinggi teknik Imperial of College Engineering (ICE) Lebih jauh diceritakan, rektor ICE, Dr Viru Shasrabuddi (diperankan Boman Irami) sedang memberi wejangan di hadapan mahasiswa barunya. Dengan doktrin kalau hidup dimulai dengan membunuh. Karena itu, untuk tetap eksis harus melewati kompetisi agar tetap bertahan hidup.

Ia menganalogikan mahasiswanya seperti burung Cuckoo, jenis burung yang tidak pernah membuat sarangnya sendiri, dan menyimpan telurnya di sarang burung lain. Ketika telurnya menetas, maka burung tersebut akan menendang telur lainnya. Karena kompetisi sudah berakhir, yang menetas duluanlah sebagai pemenang, sedangkan yang terlambat sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Begitulah penjelasan rektor Dr Viru Shasrabuddi yang namanya diplesetkan menjadi virus oleh mahasiswanya.

Layaknya virus komputer yang sering menganggu jalannya program. Karena karakter sang rektor memang fasis, sama sekali tidak mau menerima pendapat mahasiswanya dan merasa selalu benar dalam segala hal. Itu jelas menganggu konsentrasi mahasiswa yang selalu butuh inovasi baru. Sampai ada kejadian salah satu mahasiswanya yang depresi dan akhirnya ditemukan gantung diri di kamarnya, mahasiswa tersebut adalah Joy Lobo yang temuannya tentang kamera pengintai yang dapat terbang dianggap sebagai helikopter yang eneh oleh Dr Viru Shasrabuddi, lalu memeberitahukan ke orang tua Joy Lobo kalau anaknya bakal tidak lulus.


Penulis skenario, Ahbijat Joshi dan Rajkumar Hirani, membuat dialog yang sangat kuat untuk setiap tokoh, sehingga terasa jelas alur cerita yang ingin disampaikan, hanya saja, bila penonton tidak berkonsentrasi dalam menyimak film ini. Maka, akan kepayahan untuk menelahnya, karena film ini menggunakan teknik maju mundur yang diceritakan kembali oleh Farhan (narator).

Teknik bercerita seperti ini dapat pula kita jumpai dalam film Laskar Pelangi dan sekuelnya Sang Pemimpi besutan Riri Riza. Jadi, Farhanlah yang membimbing penonton untuk melihat konsep pendidikan yang fasis yang hanya menganjurkan mahasiswanya untuk memperoleh nilai yang tinggi kemudian mencari pekerjaan pada suatu perusahaan.

Meminjam analisis novelis Prancis, Albert Camus, bagaimanapun ketatnya suatu sistem, maka hasrat untuk memberontak selalu ada dalam diri manusia. Dan, dalam film ini memperlihatkan sosok Rancho (diperankan Aamir Khan) yang “melanggar” segala tetek bengek aturan kampus yang menempatkan mahasiswa sebagai objek semata.

Ia menjelma sebagai sosok penyemangat bagi kedua rekannya, Raju Rastogi (diperankan Salman Joshi) yang berasal dari keluarga miskin sehingga ia sangat ingin mengubah jalan hidup keluarganya yang lebih baik dengan masuk di ICE. Farhan sebenarnya ingin menjadi seorang fotografer hewan alam liar, tetapi keluarganya mengehendakinya untuk menjadi seorang insinyur agar masa depan hidupnya lebih terjamin.

Film berdurasi kurang lebih dua jam ini membawa penonton tertawa dan menangis dengan segala lelucon yang serius ditambah kisah sedih yang menghampiri ketiga tokoh utamanya. Perlu diketahui kalau Rancho, sebenarnya adalah anak tukang kebun pada keluarga terhormat, ia belajar di ICE karena ketahuan sering mengerjakan PR anak majikannya. Kemudian dibuatlah kesepakatan kalau Chotte (nama Rancho yang sebenarnya, dan diakhir cerita ia dikenal dengan Punshuk Wangdu, ilmuwan sekaligus guru dengan 40 jenis penemuannya yang sudah dipatenkan) akan dikirim belajar di ICE karena ia ingin sekali belajar, tetapi ijzahnya akan dieserhakan kembali pada anak majikannya. Makanya ia memakai nama Ranchodas Shamaldas Chamchad.

Perilaku Pendidikan Kita

Salah satu fungsi film adalah mengetuk hati nurani kita akan konnstruksi realitas hidup yang sedang kita jalani. Apa yang terjadi dalam film 3 Idiots seakan mengingatkan kita akan permasalahan dalam dunia pendidikan di negeri ini, baik dalam dunia akademik maupun dalam keluarga.

Di sekolah, kita hanya dipacu untuk mengingat dan menuliskan kembali apa yang sudah ada dalam buku paket pelajaran, dan orang tua sepertinya terjebak pada pola hidup yang singkat yang hanya merekomendasikan anaknya untuk bersekolah yang bisa memberi jaminan pekerjaan yang mapan. Meski anak tersebut tidak senang dengan pilihan orang tuanya.

Tujuh tahun terakhir ini kita akan selalu menyaksikan berita tentang depresinya anak sekolah yang dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN), karena ukuran pendidikan kita hanya sebatas angka-angka yang harus dicapai agar seorang siswa dianggap pintar. Hal ini sungguh sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Padahal, hakikat pendidikan adalah bagaimana membimbing manusia menemukan kemanusiaanya dalam lingkungan sosialnya.

Penekanan cognitive domain (melatihkan keterampilan) dalam dunia pendidikan kita masih dijadikan tolak ukur nomor satu. Sehingga affective domain (watak) tidak begitu dihiraukan. Maka jangan heran jika lulusan pendidkan sebatas melahirkan manusia books thinking yang disibukkan untuk mencari pekerjaan tanpa ada inisiatif untuk  menciptakan lapangan pekerjaan. Juga jangan heran kalau pelaku korupsi di instansi pemerintahan kebanyakan sarjana. Karena pembentukan watak dalam pendidikan kita bukanlah sesuatu yang penting. Ditambah sikap otoriter guru (dosen) yang terjebak dalam keprofesionalismeannya sehingga tak mau lagi mengapresiasi ide-ide baru siswa (mahasiswa).

Realitas menunjukkan kalau kasus percobaan bunuh diri yang sering dilakukan oleh siswa dikarenakan kuatnya tekanan dalam dunia pendidikan yang membuat siswa seakan tak berguna. Jika kasus sebelumnya, siswa yang bunuh diri dikarenakan tak mampu membayar SPP, maka ke depan, siswa yang bunuh diri dikarenakan oleh sistem pendidikan yang memang “membunuh” kreatifitas dan harapan siswa.

Sudah seharusnya arah pendidikan kita bergerak ke arah yang lebih humanis yang menempatkan guru dan siswa sebagai subyek pembelajar, bukan lagi merawat hubungan baku subyek (guru) dan objek (siswa) yang terbukti telah mematikan karakter kemanusiaan kita selaku manusia.

***
Dimuat di Rubrik Apresiasi Fajar Maret 2010

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap