Skip to main content

Kelompok Awan Masih juga Lelap dalam Tidur



Tak karuan. Begitu saya menyebutnya pada obrolan tak bertepi di tepi jalan depan rumah. Benar kata Karl Marx: “Bukan kesadarannya yang menentukan, tetapi situasi sosialnyalah yang jadi penentu”.

Menyaksikan itu setiap hari, teringat juga ucapan Seno Gumira Adji Darma: “Masyarakat kita memang bebas dari buta huruf. Tetapi mereka membaca kalau ada potongan harga di toko, mereka membaca kalau sedang mencari alamat, dan mereka membaca jika hendak melihat loker di koran.”

Masih terus kujejali walau kadang kala tak paham dengan apa yang dibahas. Kucari terus akar masalahnya sampai mendung bersama gelegar petir membangunkan tidur rumput di halaman. Entah apa yang singgah di benak saat itu, tiba-tiba kubernyanyi tanpa judul. Bunyi-bunyian keluar begitu saja tanpa jeda untuk berfikir. Dan, lagi-lagi mereka berdendang merapal mantra.

Pada hari ini masih terdiam dalam bentuk paling kaku usai menghabiskan film di televisi. Kucerna terus lalu kusimpulkan. Film itu ada kaitannya dengan kampanye privatisasi tanah, udara, dan air. Kemudian kuberjalan ke warung. Heran menyaksikan sebuah botol air mineral dengan ragam merk yang dipajang dengan harga yang beragam pula. Kupalingkan wajah lalu berjalan pulang. Seorang anak berusia sekitar Tujuh tahun mendahului langkahku dengan ayuan sepedanya, ia membawa sebotol air mineral paling mahal. Seolah iklan yang diperagakan. Kulanjutkan langkah kaki lebih gegas. Akankah ini akan terjadi terus, dan berhasilkah sekelompok intelektual yang bekerja mengejar uang dan berhasilkah kampanye privatisasi itu. Baru kemudian teringat ucapan teman yang heran saat mengucapkannya padaku, katanya: “Para petani akan membayar air yang ada di sawahnya.”

Tambah sesak nafas ini mengingatnya, debu beterbangan di bawah terik matahari. Sempurnalah sudah saat itu. Melambungkan angan yang belum jelas ke mana tujuan akhirnya kelak sampai.

Sesampai di kamar, kuteguk sisa kopi dan membaca koran edisi tahun lalu

***
Pangkep, 7 Januari 2004
Makassar, 8 April 2014 (Revisi)

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…