Skip to main content

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat Teman-teman PPIM (Bagian 5)



Setelah beberapa hari berusaha mengumpulkan bahan melanjutkan seri catatan PPIM, namun bagian ke lima belum juga rampung, Anton sudah menagih, tetapi saya katakan kalau sungguh kehabisan bahan, semangat, dan ide. Dan hari ini tepat pada pukul 12:11 bagian ke 5 harus lahir dengan rupa yang beda dengan empat catatan sebelumnya. Tiba-tiba saja saya teringat buku catatan harian dimana saya sering menulis puisi di awal pagi di kota Sorong, Papua Barat. Saya menemukan puisi bertarikh 19 Agustus 2005 ini memang untuk merekam narasi tahun 2003. Semoga catatan bagian ke enam akan lebih panjang lagi.


Kalender 2003
-buat teman PPIM

Apa yang mengingatku dan siapa!
Segumpal ocehan sudah berbaur basi karena teriakan yang tidak dianggap
Itu bukan dusta karena terekam pasti dan tak berubah dengan makna awalnya. Kelak diingat dengan macam perasangka. Kecurigaan bisa saja menyertainya.
Ubahlah kekosongan kota angin yang berhembus membawa kesesakan
Kita berbicara dan membicarakan, kita diingat dan dibicarakan.
Aku mengingatnya dan juga membicarakannya kembali.
Kota angin yang menyesakkan dan kita telah pula menghirupnya.  
*
Pangkep, 2012
 

Comments

  1. ('kota angin') menurutku begitu riuh mengusik ketenangan persiapan UAN/SPMB kala itu,
    ('berbicara dan membicarakan') adalah kenikmatan tertinggi saat itu,
    ('dibicarakan') juga adalah resiko dari pilihan gerakan dan persinggungan gagasan dengan 'tokoh-tokoh' hebat itu,
    ('membicarakannya kembali') agar dia tidak berlalu bersama angin kota itu.

    kawanku Daus, "saya tidak lupa menghirup aroma kota angin saat itu!"

    ReplyDelete
  2. heheheh,,anginnya sesak sekali,,apalgi hari ini hutan tembok dimana2,,angin semakin sedikit, jadi semua pake kipas angin meski selalu masuk angin, akhirnya lakulah minyak angin...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…