Skip to main content

Suatu Siang di Perpustakaan STAI DDI Pangkep


Dok. Kamar Bawah: 2011

Perpustakaan seharusnya selalu ramai, apalagi jika berada dalam dunia kampus yang penuh dengan geliat kegiatan mahasiswa. Secara simbolis. Denah dan tata letak gedung kampus biasanya menempati posisi  sentral sebagai maksud agar ia begitu cepat dituju tanpa hambatan. Perpustakaan dalam definisi yang lain adalah sebuah ruang yang steril dari segala aturan. Berbeda dengan ruang perkuliahan yang merupakan perjumpaan gerak dialektik antara mahasiswa dan dosen. Perpustakaan menegaskan posinya sebagai ruang yang bebas dari semua itu. Kausalitas yang terbangun mestilah ditunjang dengan indefendensi bagi siapa saja yang berada di dalamnya.

***

Suatu siang itu tepatnya 1 Oktober 2011, saya menyempatkan ke kampus dan perpustakaan menjadi tujuan utama setelah tidak ada lagi aktifitas perkuliahaan yang rutin di ruang kelas. Hampir tidak ada yang berubah. Buku, desain, fasilitas, dan pengunjung. Saya mendapati Ibu Suaebah (Pegawai Perpustakaan) membaringkan kepalanya di atas meja ditambah dua orang sedang membaca, dua lagi tampak saling mengobrol. Tak jauh dari aktifitas yang sepi itu, terlihat dari jendela beberapa mahasiswa saling bercengkrama di depan sekretariat BEM.
Perpustakaan masihlah menjadi ruang sepi yang diisi segelintir orang yang memilih kesunyian dalam teks-teks yang jumlahnya juga sepi.

Saya teringat sepotong sajak Jeni E Naibaho yang berkisar tentang kemerdekaan dalam membaca buku:

Tak apalah hidup semakin getir
Makan esok selalu ditunggu dengan ketar-ketir
Sebab buku tak lagi membuatmu melarat

Akirnya, apa yang kau pelajari dari kampus hari ini anakku. Getir seorang ibu pada anaknya, anak itu diam terkatup. Ia memejamkan matanya mencoba mengingat sesuatu. Sangat dalam dan agak lama. Sebelum akhirnya tersenyum ketus lalu berkata: Aku diminta untuk melunasi uang pembayaran yang tertunggak 3 Semester Bu?

Ibunya diam lebih sunyi, lebih lama dan memutar badan menuju dapur yang asapnya tak lagi tebal.

Comments

  1. Memangnya berapa sih jumlah mahasiswa STAI DDI Pangkep?

    Salam kenal dari www.qalamediaonline.co.cc. Saya tunggu kunjungan dan komen2 cerdasnya....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap