Skip to main content

Mubes BEM STAI DDI Pangkep yang Sepi




Spanduk Mubes yang gamang


Musyawarah Besar (Mubes) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Da'wah Wal-Irsyad (STAI-DDI) Pangkep ke VII usai sudah digelar pada 23 Oktober 2011.

Dari hajatan tahunan lembaga mahasiswa itu, tentu begitu dinanti untuk melahirkan generasi baru. Berdasarkan sejarahnya, Mubes BEM STAI tentu pula mengalami pasang surut. Saya mencatatnnya pada Mubes periode 2007-2008, suasana Mubes tak lebih sebagai ajang presentasi makalah. Suasananya sama sekali tidak menarik dan terkesan dipaksakan.

Hal itu lalu perlahan berubah drastis di perhelatan Mubes berikutnya (2008-2009). Untuk pertama kalinya pemilihan dilakukan secara langsung yang melibatkan seluruh mahasiswa di mana sebelumnya pasangan calon kandidat telah ditetapkan jauh sebelum pelaksanaannya.

Mereka kemudian diberi kesempatan untuk berkampanye dalam memperkenalkan visi misi. Sehingga, terasa jelas aroma pemilihan dan dengan sendirinya merangsang minat mahasiswa untuk mengikuti jalannya musyawarah besar. Mubes periode ini juga turut memancing civitas akademik serta alumni untuk hadir guna melihat langsung proses pemilihan hingga perhitungan suara. Namun, Mubes kala itu bukannya tanpa cela, karena rapat amandemen AD/ART hanya beberapa peserta saja yang menghibahkan waktu untuk berpartisipasi. Sehingga, gagal disepakati satu pasal untuk mensahkan pemilihan langsung. Perlu diingat, bahwa proses pemilihan langsung dalam Mubes ini tidaklah sesuai AD/ART. Isu pemilihan langsung hanyalah kreativitas penyelenggara guna membuat gaung Mubes memiliki daya tarik.

Pada periode berikutnya (2009-2010), usaha untuk mempertahankan suasana Mubes yang gempita tak berjalan begitu mulus, panitia tak begitu menangkap semangat dalam mempertahankan kemeriahan seperti yang terjadi pada periode berikutnya. Sehingga pemilihan Presiden BEM hanya dihadiri kurang dari seratus peserta termasuk yang memilih. Namun catatan lain dari Mubes ini, memperlihatkan geliat generasi muda untuk maju sebagai Presiden BEM. Selain itu, pembahasan AD/ART dilakukan di pelataran kampus yang diikuti puluhan peserta. Jauh meningkat di periode sebelumnya.


Suasana pembukaan yang sepi undangan


Kemudian di tahun 2011 kali ini, hal yang diimpikan lebih semarak, ternyata di luar dugaan. Panitia menunjukkan sikap yang tidak profesional dan teramat lambat mengambil keputusan. Hanya karena yang bersangkutan, Puket III telat hadir di ruangan untuk membuka acara secara resmi.

Kelalaian panitia yang lain, karena undangan yang bersangkutan hanya dititip di kantor. Padahal, yang bersangkutan setiap hari berada di kampus. Karena hal sepele itulah pelaksanaan molor tiga jam dari jadwal yang sudah ditetapkan. Situasi teknis lainnya, diperparah dengan tidak adanya persiapan panitia dalam mempersiapkan perangkat teknis gedung yang akan digunakan. Mulai dari kebersihan ruangan, kurangngya kursi, tidak adanya undangan para alaumni BEM dan civitas akademik, hingga tidak adanya pengeras suara yang dipersiapkan. Sehingga dapat disebut kalau pelaksanaan Mubes BEM kali ini tidak dipersiapakan secara matang.

Suasana sambutan yang sepi

Sebagaimana selanjutnya, Mubes tetap dijalankan secara tertatih yang ditopang semangat dan penghormatan terhadap institusi yang bernama BEM ini. Jika saja tidak, maka Mubes kali ini bisa saja dibatalkan dengan alasan yang masuk akal: PANITIA TIDAK SIAP.

Dalam kata sambutan yang digemahkan Dr Ibrahmin Nurdin MA, mengatakan kalau indikasi untuk dikatakan Mubes, ada dua. Pertama, Mubes dihadiri orang-orang besar dalam lingkup BEM (Alumni) serta petinggi kampus. Kedua, Mubes dihadiri oleh seluruh mahasiswa yang terdaftar di kampus ini. Tetapi, hal itu kayaknya tidak berlaku bagi pelaksanaan Mubes kali ini.

Sebagai penutup, semoga catatan kecil ini dapat menjadi pengantar dan bahan evaluasi bagi pengurus baru dalam merancang Mubes berikutnya. Akhirnya, selamat kepada Ibnu Mundzir dan Afdal sebagai pasangan calon yang terpilih secara demokratis dari 69 peserta yang masih bertahan di sisa magrib untuk menggunakan hak pilihnya. Pasangan ini berhasil memperoleh 28 jumlah suara, hanya beda 8 suara dari pasangan Armin-Lukmasnyah serta Pasangan lainnya Asfar-Abdullah.

***
Pangkep, 23 Oktober 2011

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap