Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2011

Makassar, Urbanisasi, dan Penulis

Sejarah para penulis di Makassar adalah sejarah lain dari urbanisasi. Saya memulainya dengan kiprah Retna Kencana Colliq Pujie (Arung Pancana Toa) pada tahun 1852 yang menuliskan kembali epos La Galigo, meski hanya sampai 12 jilid. Hasilnya, pengingatan kesadaran, sejarah, dan asal-usul dari epos tersebut dapat dijamah oleh generasi sekarang.
Dalam era pelisanan, tak ada pusat yang menjadi sumur tunggal. Layaknya air hujan. Ia bisa turun dan mengendap di mana saja. Dituliskan dalam sejarah hidupnya, Colliq Pujie melawan keterbatasan dan pembatasan bagi seorang perempuan pada masanya. Ia keluar masuk desa untuk mencari sebaran-sebaran naskah La Galigo. Sejarah lainnya, ia mendapat bayaran dari pemerintah Belanda dan naskah itu selanjutnya diserahkan kepada B F Matthes. Seorang misionaris yang ditugaskan Belanda untuk mempelajarai kebudayaan di Sulawesi-Selatan. Tapi itulah pilihan yang harus dijalani Collieq Pujie. Keteladanannya jauh lebih pantas diperingati untuk konteks Sulawesi Sela…